Jokowi Ngefek ke 2014

Jakarta, Sayangi.com – Mengutip sejumlah hasil survey baru-baru ini, elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) semakin tidak terbendung saja. Memang, terbengkelainya sejumlah program unggulan Jokowi di DKI Jakarta seperti Mass Rapid Transportation (MRT) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS), penangan Waduk Pluit dan sebagainya, tidak menyurutkan minat responden untuk memilihnya menjadi Presiden RI di 2014 nanti.

Survey terakhir yang dilakukan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) di 31 Provinsi, dan entah kenapa dua Provinsi di Papua tidak dimasukkan, antara 9-16 April 2013, elektabilitas Jokowi dalam survey dengan menthode tatap muka kepada 1635 responden, jauh mengungguli Prabowo Subiyanto di urutan kedua.

Jika Prabowo yang sebelumnya diunggulkan oleh sejumlah lembaga survey elektabilitasnya hanya 15,6 %, maka Jokowi di urutan pertama meraih 28,6 %, setara dengan responden yang belum menentukan pilihannya sebanyak 28 % juga. Sedangkan tokoh-tokoh lainnya di bawah 10 %, masing-masing Aburizal Bakrie yang rajin beriklan di televisi 7 %, Megawati Soekarnoputri 5,4 %, Jusuf Kalla 3,7 %, Mahfud MD 2,4 %, dan Hatta Rajasa di urutan paling buncit 2,2 %.

Dari sisi popularitas selaku pejabat Negara, nama Jokowi pun masih bertengger di paling atas, yaitu 85,9 %, mengalahkan ibu Negara Ani Yudoyono 78,5 %, Sri Sultan Hamengkubuwono 59,5 %, Dahlan Iskan 42,6 %, Mahfud MD 39,6 %, Pramono Edhie Wibowo, 20,2 %, Djoko Suyanto 15,2%, Gita Wiryawan 8,4 % dan yang lain-lainnya.

Kemenangan Ganjar Pranowo – Heru Sudjatmoko yang nyaris 50 %, di luar prediksi sejumlah kalangan, tentu selain solidnya mesin partai PDI-P di Jawa Tengah, juga tidak terlepas dari pengaruh Jokowi yang ikut blusukan kampanye untuk Gagah (Ganjar Gandeng Heru) di sejumlah kota Jawa Tengah. Padahal, popularitas Ganjar sebelumnya paling buncit ketimbang kedua calon Gubernur (Cagub) pesaingnya.

Bukan hanya di Jawa Tengah, bila mencermati hasil Pilkada di Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Utara (Sumut), meskipun kedua penantang Calon Gubernur petahana itu masih kurang suara untuk berkuasa, namun pengaruh Jokowi cukup significant untuk mendongkrak pasangan Rieke – Teten di Jabar dan Effendi Simbolon – Jumiran di Sumut.

Sebelum Jokowi tampil di Jabar, elektabilitas Rieke hanya sekitar 17 %, namun perolehan suara akhir mencapai hampir 28 % atau selisih sekitar 4 % dengan Pemenang. Dan lebih gamblang lagi, Effendi Simbolon yang ngomong saja salah-salah, antara lain menyebut Bagansiapi-api bagian dari Sumut padahal itu wilayah Riau, dengan modal 5 %, setelah kedatangan Jokowi terdongkrak hingga 27 % atau selisih sekitar 4 % dengan calon petahana yang muncul sebagai pemenang.

Artinya, kehadiran Jokowi dalam kampanye Pilkada, termasuk di Bali, tidak selalu membawa calon yang dikampanyekannya menang, namun mampu mendongkrak suara secara luar biasa sehingga calon yang diusung PDI Perjuangan hanya kalah tipis dibandingkan calon pemenang. Gejala itu dapat menggambarkan elektabilitas Jokowi sekaligus kebangkitan PDI Perjuangan sebagai calon partai pemenang Pemilu Legislatif di 2014 nanti.

Bukan hanya CSIS, sebelumnya lembaga-lembaga survey lainnya juga pernah mengunggulkan Jokowi. Media Survey Nasional (MSN) yang berbasis di Medan, Sumut, serta Lingkaran Survey Indonesia (LSI) juga menempatkan Joko Widodo di paling atas. Namun persoalannya, partai politik mana yang akan mengusung Joko Widodo?

Sedangkan PDI Perjuangan sebagai “rumah” Jokowi, hingga kini belum menentukan sikapnya secara jelas. Eva Sundari pun, kader yang terhitung vocal di partai Banteng Gemuk bermoncong putih itu, hanya menyambut baik atas hasil survey yang menempatkan Jokowi di posisi teratas, namun partainya tidak akan gegebah mencalonkannya sebagai Capres. “Konsentrasi kita masih di Pemilu Legislatif,” kilah Eva Sundari yang ditugaskan fraksinya di Komisi III DPR-RI.

Terlepas, ada tidaknya partai yang mengusung Jokowi, sebab Jokowi sebagai kader loyal PDI-P belum tentu mau dicalonkan oleh partai lain selain PDI-P, ada penilaian lain dari sejumlah kalangan, sesungguhnya ada kerinduan masyarakat untuk menampilkan tokoh alternatif di luar Capres-Capres yang ada.

Bila asumsi itu benar, pertanyaannya, kenapa Dahlan Iskan, Mahfud MD dan Gita Wiryawan yang belakangan sibuk membranding diri di sejumlah acara televisi elektabilitasnya masih di bawah 5 %? AKankah, bila nama Jokowi tidak dimasukkan dalam survey dengan pertimbangan tidak jelasnya partai politik pengusung, serta merta nama-nama alternative itu bakalan terdongkrak?

“Belum tentu juga,” ungkap seorang kader Partai Demokrat yang enggan disebut namanya. Bahkan kader yang berada di lingkar dalam Cikeas itu berani berspekulasi, bila Jokowi tidak dicapreskan, maka Prabowo Subiyanto yang bakalan muncul sebagai pemenang. Betulkah?

Kita tunggu dinamika politik hingga awal 2014 nanti. Yang jelas, siapa yang bakalan jadi Presiden di 2014 nanti akan menjadi Topik yang selalu seru untuk didiskusikan. (MARD)