Daftar Panjang Perang Gangster di Jabodetabek

Jakarta, Sayangi.com – Kematian Fransiscus Refra alias Tito Kei, menambah panjang daftar kematian orang-orang yang dibunuh karena diduga terkait aksi premanisme. Sebelum Tito Kei dibunuh, sebelumnya kakak kandung John Kei, Walterus Refra juga dibunuh orang tak dikenal, di pelataran Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Selasa, 8 Juni 2004. Artinya, dalam kurun 9 tahun sudah 2 saudara kandung John Kei tewas dibunuh.

John Kei sendiri berstatus terpidana 12 tahun penjara. Dia didakwa membunuh Tan Harry alias Ayung yang juga bos PT Sanex Steel pada Kamis malam 26 Januari 2012 di kamar 2701 Swisbelhotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Kini John Kei dipenjara di rumah tahanan Negara (Rutan) Salemba.

Kematian Walterus Refra, kakak kandung John Kei, jelas terkait pertikaiannya dengan kelompok Basri Sangaji di Diskotik Stadium, Jakarta Barat, Selasa, 2 Maret 2004. Dalam peristiwa itu dua petugas keamanan diskotek tewas.

Tak berapa lama, tepatnya 12 Oktober 2004 dini hari, giliran Basri Sangaji (36) ditembak mati di kamar 301, Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan. Selain menewaskan Basri, aksi penyerangan oleh sekitar 15 orang itu juga mencederai Ali Sangaji, adik kandungnya, dan Jamal Sangaji, orang kepercayaannya. Dua hari berikutnya Polisi berhasil meringkus 8 tersangka.

Rupanya pula, penyerangan atas Basri Sangaji disebut-sebut dekat dengan sejumlah politisi itu, terkait dendam Louis, satu diantara pelaku yang diringkus, atas kematian kakak kandungnya sekitar 5 tahun yang lalu. Adakah kematian Tito juga terkait dendam keluarga, kita nantikan hasik penyelidikannya.

Tapi yang jelas, bila modus pembunuhan sebelumnya dilakukan secara bergerombol, sekarang dilakukan secara lebih cepat dan senyap dengan melibatkan pembunuh professional yang tidak mudah dilacak. Sejumlah saksi mata pembunuh Tito hanya menunjukkan cirri-ciri bertubuh ramping, sedangkan seorang Kakek bernama Ratin yang diduga lebih mengenali cirri-ciri pelaku langsung tewas didor.

Polisi pun mengaku kesulitan membuat sketsa siapa pelukanya. Karena memang, diduga kuat aksi itu melibatkan pembunuh bayaran yang piawai menghapuskan jejaknya. Terbunuhnya Tito Kei yang berprofesi pengacara dan masuk dalam daftar calon legislatif untuk DPR-RI dari daerah pemilihan Papua Barat menunjukkan belum berakhirnya perang gangster di Jabodetabek.

Pertarungan antar kelompok preman memang kerap terjadi di Jakarta. Biasanya dipicu oleh perebutan lahan jasa pengamanan dan penagihan utang. Di Jakarta, sekarang ini setidaknya ada tiga kelompok preman besar, masing-masing Hercules, John Kei dan Basri Sangaji. Selain bergerak dalam jasa pengamanan, ketiga kelompok itu juga melayani jasa penagihan utang di atas Rp 500 juta.

Sebelum ketiga kelompok ini eksis, jasa penagihan utang (debt collector) di Jakarta semula dikuasai oleh kelompok Johny Sembiring. Namun kelompok ini bubar seiring tewasnya Johny Sembiring yang dibunuh oleh sekelompok orang tak dikenal di kawasan Matraman, Jakarta Timur, 1996 lalu.

Selain ketiga kelompok besar itu, sebenarnya di Jakarta banyak tumbuh kelompok-kelompok, baik yang berkumpul atas nama identitas etnis maupun Ormas kepemudaan. Ada kalanya keberadaan kelompok-kelompok itu diwarnai persaingan yang berujung bentrokan.

Aksi premanisme di Jakarta memang sudah meresahkan. Mengutip data Polda Metro Jaya, dalam 3 tahun terakhir aksi premanisme berupa pengancaman dan pemerasan, cenderung meningkat. Di tahun 2012 saja, aksi premanisme meningkat 19,85 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2012 kejahatan premanisme mencapai 707 kasus dan 2011 ada 580 kasus.

Padahal, setiap muncul bentrokan yang dilator-belakangi premanisme, sejumlah petinggi Negara, termasuk Presiden suah memberi pernyataan di surat kabar. “Negara tidak boleh dikalahkan oleh premanisme,” begitu ucap SBY dalam suatu kesempatan.

Jajaran kepolisian, sejak Polri, Polda, Polres dan Polsek, telah melakukan berbagai upaya. Namun, kematian Tito Kei yang diduga dilatarbelakangi praktek premanisme, masih saja berlangsung dan sejauh ini polisi belum menemukan titik terang yang mengarah ke pelakunya.

Artinya, kita masih berada di jalan panjang dalam melawan aksi premanisme. (MARD/ANT)