Jurus Pemprov DKI Melawan Premanisme

Jakarta, Sayangi.com – Setiap daerah tentu memiliki cara sendiri-sendiri dalam mengatasi premanisme. Begitu pula di Jakarta. Kendati masalah keamanan menjadi urusan kepolisian, namun Pemerintah Provinsi Jakarta memiliki 4 jurus untuk mengatasi aksi premanisme.

Jurus pertama, dalam suatu kesempatan Wakil Gubernur Basuki alias Ahok menjanjikan lowongan pekerjaan, dengan asumsi orang berbuat jahat karena terdesak kebutuhan hidup. “Makanya kita mesti bangun banyak pasar, sehingga membuat banyak orang bisa bekerja,” tuturnya kepada wartawan. “Siapa sih orang yang bercita-cita jadi tukang todong? Nggak ada,” lanjut Ahok.

Jurus kedua, memberikan bantuan modal usaha. Kendala utama orang berusaha, ucap Ahok, adalah mahalnya sewa kios. Dalam hal ini, Gubernur Joko Widodo memiliki pengalaman sukses di Solo, dan pengalaman itu akan diterapkan di Jakarta.

Di Solo, kios-kios itu digratiskan dengan cara diundi. Setelah usahanya jalan baru ditarik retribusi. Tidak mengherankan bila Solo yang tadinya kota kumuh dan seram, kini sector PKL dan pasar tradisionalnya menyumbang retribusi terbesar, lebih besar dari mal-mal dan hotel.

Jurus ketiga, pengerahan polisi pamong praja (Pol PP) ke tempat-tempat keramaian. Dengan begitu aksi premanisme cepat termonitor dan dapat segera ditindak. Pengerahan Pol PP ini, tutur Ahok, membantu aparat kepolisian dalam menjalankan tugasnya.

Jurus keempat, Pemprov DKI Jakarta berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya dalam memonitor dan mengawasi kegiatan kelompok-kelompok tertentu. Apabila ada kelompok-kelompok tertentu yang memang sudah melanggar hukum, himbau Gubernur Joko Widodo alias Jokowi, harusnya ada tindakan keras dari aparat kepolisian.

“Jika aksi kelompok tersebut sudah menjurus kepada premanisme, sudah pasti harus diadili dengan tegas,” tandas Jokowi.

Tapi perlu diingat, Jakarta bukanlah Solo yang hanya berpenduduk 503.421 jiwa (BPS 2010) sedangkan Jakarta di tahun yang sama penduduknya mencapai 9 607 787 jiwa yang berasal dari beragam etnis, suku, agama dan strata social.

Jadi, memang tidak gampang, tentunya.  (MARD)