AS Bidik Mata Uang Iran

Washington, Sayangi.com – Pemerintah Presiden AS Barack Obama, Senin (3/6), memperluas sanksi terhadap Iran dengan membidik mata uang Republik Islam tersebut serta industri otomotifnya, dengan tujuan mengucilkan Iran karena program nuklirnya.

Presiden Barack Obama menyetujui perintah baru eksekutif guna mengizinkan diperketatnya sanksi atas Iran dalam upaya pemerintahnya, yang terus berlangsung, untuk memaksa Negara Persia itu menghentikan kegiatan pengayaan uraniumnya.

Berdasarkan instruksi itu, semua lembaga keuangan asing akan terkena sanksi jika melakukan transaksi “penting dan besar” dalam pembelian atau penjualan rial Iran, atau pemeliharaan rekening “besar” di luar Iran –yang didominasi oleh mata uang Iran.

Mata uang Iran dilaporkan telah kehilangan separuh nilainya sejak awal 2012, akibat sanksi AS. Seorang pejabat pemerintah AS mengatakan rendahnya nilai tukar rial sangat rentan bagi Pemerintah Iran.

Penjualan barang atau jasa bagi pembuatan atau perakitan di Iran bagi kendaraan ringan dan berat, termasuk mobil penumpang, truk, bus, busmini, truk bak terbuka dan sepeda motor, juga menjadi sasaran sanksi baru AS, demikian laporan Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa.

“Semua langkah itu yang dilancarkan hari ini adalah bagian dari komitmen Presiden Obama guna mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, dengan meningkatkan tebusan atas pembangkangan Iran terhadap ‘masyarakat internasional’,” kata Juru Bicara Gedung Putih Jay Carney di dalam satu pernyataan.

“Sasaran nya ialah untuk membidik rial Iran dan membuatnya menjadi mata uang yang tak bisa digunakan …,” kata pejabat AS yang tak ingin disebutkan jatidirinya dan dikutip oleh kantor berita Inggris, Reuters.

“Bahkan saat kami meningkatkan tekanan kami atas Pemerintah Iran, kami tetap membuka pintu bagi penyelesaian diplomatik –yang memungkinkan Iran bergabung kembali dengan masyarakat semua bangsa jika mereka memenuhi kewajiban mereka,” ia menambahkan.

Iran berkeras mengenai sifat damai program nuklirnya, sementara Barat menganggap itu adalah kedok bagi pembuatan senjata nuklir.

Amerika Serikat dan negara lain Barat telah menjatuhkan serangkaian sanksi ekonomi dengan tujuan menekan Iran agar menghentikan apa yang mereka katakan sebagai “upaya untuk membuat senjata nuklir”.

Sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa telah memangkas hingga separuh eksport minyak Iran tahun lalu, sehingga Pemerintah Teheran kehilangan pemasukan miliaran dolar AS, dan menambah inflasi yang sudah tinggi serta memukul nilai tukar rial Iran.

Sanksi tersebut telah melukai ekonomi Iran, tapi nyaris tak ada bukti Iran telah memperlambat program nuklinya sebelah pemilihan presiden di Iran pekan ini.

Sanksi atas industri otomotif, yang biasanya mempekerjakan paling banyak orang setelah sektor minyak dan gas, juga menimbulkan kekhawatiran bahwa rakyat biasa Iran lah yang akan paling menderita, kata banyak pengulas.

Pekan sebelumnya, Amerika Serikat memasukkan delapan perusahaan di industri petrokimia Iran ke dalam daftar hitam, dan pembatasan lebih lanjut akan berlaku pada 1 Juli. Yang paling belakangan menjadi sasaran adalah infustri perkapalan dan pembuatan kapal sera larangan pengiriman emas atau logam mulia lain kepada warganegara dan lembaga Iran. (RH/ANT)