BI: Pedagang Berspekulasi, Pertumbuhan Ekonomi Turun

Solo, Sayangi.com – Deputi Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Solo, Arif Nazaruddin minta para pedagang agar wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak direspons dengan berspekulasi menaikkan harga.

“Kenaikan harga yang disebabkan faktor spekulasi atau ekspektasi akan berputar seperti siklus yang tiada habisnya,” kata Arif di Solo, hari ini Jumat (7/6). Sebagai contoh, lanjutnya, jika pedagang barang tertentu menaikkan harga jual barangnya yang diakibatkan faktor ekspektasi, maka akan direspons dengan tuntutan kenaikan upah oleh karyawannya.

Ia mengatakan tuntutan kenaikan upah tersebut dimaksudkan untuk mengimbangi kenaikan biaya hidup yang disebabkan kenaikan harga barang-barang. “Kenaikan upah menjadikan biaya tenaga kerja meningkat, sehingga memaksa pedagang untuk menaikkan harga jual barangnya lebih tinggi lagi. Kenaikan harga jual barang-barang kemudian direspons tenaga kerja dengan menuntut upah lebih tinggi lagi dan seterusnya,” katanya.

Proses siklus kenaikan harga tersebut, kata dia, akan bergulir terus dan menjadikan perekonomian tidak kondusif. Siklus kenaikan harga akan membuat perekonomian menjadi sering bergejolak sehingga menjadikan investor enggan untuk berinvestasi secara produktif dan dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Dia mengatakan penurunan pertumbuhan ekonomi berdampak terhadap menurunnya tingkat kesejahteraan, berkurangnya lapangan kerja, dan daya beli masyarakat juga turun. Jika daya beli masyarakat turun maka seluruh pelaku ekonomi akan menghadapi kelesuan produksi dan bisnis.

Agar dampak negatif tersebut tidak terjadi, dia mengimbau pedagang agar tidak mudah terpancing dengan wacana kenaikan harga BBM dan diharapkan dapat menjual barangnya dengan harga yang wajar sesuai dengan kondisi biasanya. (MSR/ANT)