Dituding Laporkan Praktik Jual Beli Rusun, Rinaldi Dianiaya Preman

Jakarta, Sayangi.com – Proyek Rumah Susun (Rusun) Pemprov DKI sangat diminati warga kelas menengah ke bawah. Sayang, ada oknum tertentu yang mencoba praktek-praktek kotor sehingga rumah susun tidak jatuh ke tangan yang berhak.

Sebagaimana diperintahkan Gubernur DKI Jakarta, bagi yang sudah mampu, sebut saja Pegawai Negeri Sipil (PNS), tidak boleh mengambil Rusun. Karena rusun memang diperuntukkan masyarakat kelas menengah bawah. Apalagi bila setelah memiliki lalu menjual lagi. Dan tidak jarang pula ada yang memborong beberapa unit rusun, nah ini yang jelas dilarang Pemprov DKI.

Tapi peraturan itu rupanya tidak digubris. Buktinya, ungkap Kasubag Humas Polres Jakarta Timur, Kompol Didik Haryadi, dirinya mendapatkan laporan adanya penyelewengan penggunaan rumah susun, yaitu praktik jual beli rusunawa Pulogebang. Laporan itu bernomor 993/k/VI/2013/RJT, termasuk juga adanya pengaduan tindak penganiayaan.

Saat ini, pihak kepolisian Polres Jakarta Timur masih dalam melakuka penyelidikan. “Iya. Sudah kami terima laporannya, saat ini masih kami selidiki,” kata Kompol Didik Haryadi.

Nasib buruk yang menimpa Rinaldi (47) bermula saat dia dituding mengungkap praktik jual beli rusunawa oleh orang tertentu demi kepentingan pribadi kepada polisi. Tak pelak lagi, segerombolan preman yang diduga suruhan pengelola rusun menggrebek dan menganiaya Rinaldi yang tinggal di Rusunawa Pulogebang, Blok B, lantai I, Nomor 6, Jakarta Timur. Penganiayaan itu terjadi pada Selasa (11/6), sekitar pukul 17.30 WIB di depan unit rusunnya yang berada di lantai 1 nomor 6. Diduga para pelaku penganiayaan sedang dalam keadaan mabuk.

Akibat dari penganiayaan itu, Rinaldi mengalami luka memar di bagian kepala dan punggungnya. Ia pun langsung melakukan visum di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), sebagai alat bukti laporannya ke Mapolres Jakarta Timur.

“Waktu itu saya lagi tidur. Tiba-tiba ada kelompok berjumlah 10 orang mengedor-gedor pintu dan menendangnya, ada pengelola yang masuk, maki-maki saya, dan saya diseret sampek ke lantai satu. Saya berulang kali dipukul dan ditendang. Meski pun saya nanyak ada apa, tapi nggak menjawab. Waktu saya berteriak minta tolong saja, ada warga juga yang mau bantu mendamaikan, tapi mereka malah bilang, warga jangan ada yang ikut campur, ini urusan Rinaldi dengan atasan saya,” terang Rinaldi kepada wartawan, Kamis (13/6). (Zavin)