Kurtubi: Perhitungan Subsidi BBM Salah

Jakarta, Sayangi.com – Pengamat migas Dr. Kurtubi menuding terjadinya bias dalam perhitungan subsidi harga bahan bakar minyak (BBM). Kesalahan tersebut karena pemerintah murni mengacu harga pasar. Demikian diungkapkan Dr. Kurtubi dalam diskusi publik “Mengapa Harga BBM Bersubsidi Mesti Naik dan Dampaknya Terhadap Rakyat Miskin”, yang digelar Perhimpunan Gerakan Keadilan dan portal berita Sayangi.com, di Jakarta, Jumat (14/6).

Menurut alumnus Colorado School of Mines (CSM) seharusnya subsidi yang benar acuannya harus biaya pokok, bukan acuan harga BBM di Pasar Singapura (MOPS). Menurut Kurtubi acuan MOPS baru betul apabila memang seluruh BBM yang dijual di Indonesia 100 % import. “Padahal kita memproduksi sekitar 60 % dan sisanya baru impor,” ujar Kurtubi.

Dengan alur berpikir yang benar dengan metode kalkulasi yang tepat, Kurtubi menyimpulkan tidak benar subsidi sampai pada kisaran 300 triliun. “Pemerintah harus kalkulasi ulang subsidi yang benar,” imbuhnya.

Kurtubi menyarankan pemerintah membatalkan atau menunda kenaikan harga BBM. Praktisi perminyakan ini menyarankan beberapa solusi sebagai alternatif, antara lain memfokuskan pengurangan konsumsi BBM dan konversi ke gas.

Kata Kurtubi, harga gas jauh lebih murah dari harga premium. Cadangan gas kita juga melimpah sehingga otomatis volume impor akan turun. Menurutnya, cadangan gas konvensional dan non konvensional kita dapat menjamin kebutuhan rakyat Indonesia hingga 200 tahun ke depan. “Selain itu, berdasarkan riset gas juga paling ramah lingkungan,” pungkasnya. (HST)