Presiden Akui Ada Masalah Toleransi

Nusa Dua, Bali, Sayangi.com – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui jika masalah persatuan, kerukunan dan toleransi masih menjadi “pekerjaan rumah” di Indonesia.

“Hadirnya demokrasi dan kebebasan itu adalah amanah reformasi tapi tidak boleh hadirnya demokrasi, hak dan kebebasan ini membuat persoalan bagi kerukunan di antara kita semua,” katanya di hadapan 300 pemimpin redaksi yang menghadiri penutupan Pertemuan Puncak Pemimpin Redaksi se-Indonesia di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/6).

Presiden menggarisbawahi pentingnya kerukunan di antara seluruh rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai identitas baik agama, etnis, suku dan perbedaan identitas yang lain.

“Saya minta dukungan insan pers, dunia media massa, dan pemimpin redaksi, kita harus bekerja keras untuk menjaga kerukunan dan toleransi di antara kita,” katanya.

Presiden mengatakan bahwa pembangunan sosial yang selama ini dilakukan pemerintahannya tidak sekadar upaya untuk mewujudkan masyarakat yang damai.

“Bukan hanya ‘peaceful society’ tapi ‘good society’. ‘Good society’ sebenarnya adalah bagian dari peradaban yang baik, yang kita idam-idamkan, yang terus kita bangun adalah peradaban yang maju… yang unggul tapi juga yang baik dalam arti luas,” katanya.

Pada kesempatan itu, Presiden bercanda dengan mengatakan bahwa bukan tidak mungkin setelah 2014 ada pemimpin redaksi yang menjadi presiden sehingga terbuka lowongan baginya untuk menjadi pemimpin redaksi.

Ia mengaku ingin berdialog dengan para pemimpin media massa sebagai sesama anak bangsa. Sebagai sesama anak bangsa, Presiden meminta para pemimpin redaksi untuk melihat Indonesia saat ini serta harapan-harapan nasional yang ingin dicapai.

“Jangan melihat Indonesia sebagai suatu foto. Mari kita melihat Indonesia sebagai sebuah gambar bergerak yang bisa memberikan gambaran lebih utuh mengenai negeri ini,” katanya.

Begitu juga dalam memandang Pemilu 2014 yang akan segera berlangsung. Presiden meminta media massa dan masyarakat tidak hanya memandang negeri ini akan seperti apa pada periode 2014-2019.

“Media harus melihat lebih ke depan. Seperti apa Indonesia pada 2025, sesuai dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EI. Seperti apa Indonesia pada tahun 2045, satu abad setelah merdeka,” tuturnya.

Oleh karena itu, Presiden mendorong media massa untuk mengejar visi dan misi para calon pemimpin negeri ini yang akan bersaing pada Pemilu 2014. Pemimpin Indonesia, kata Presiden, harus memiliki visi dan misi hingga 2045, bukan sekadar 2014-2019. (HST/ANT)