Arif Budimanta: Struktur Harga BBM Tidak Jelas

Jakarta, Sayangi.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Arif Budimanta mengaku DPR tidak memiliki gambaran yang jelas tentang struktur harga bahan bakar, baik yang bersubsidi maupun non-subsidi. Demikian dinyatakan Arif Budimanta, dalam diskusi publik “Mengapa Harga BBM Bersubsidi Mesti Naik dan Dampaknya Terhadap Rakyat Miskin”, kerjasama Perhimpunan Gerakan Keadilan dan portal berita Sayangi.com, di Jakarta, Jumat (14/6).

Selain Arif Budimanta, hadir juga narasumber lain yaitu pengamat perminyakan DR. Kurtubi, politisi sekaligus anggota DPR Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Andi Rahmat dan Twedy Noviady Ginting Ketua Presidium Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI).

“Dari refleksi kami di Banggar maupun Komisi Dewan Perwakilan Rakyat, ada ketidaktransparan tentang struktur harga pokok bahan bakar baik yg bersubsidi maupun pertamax serta pertamax plus,” katanya.

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) mengungkapkan, karena minim data, rapat-rapat di institusi perwakilan rakyat tersebut tidak bisa mengelaborasi struktur harga pokok bbm. “Kami tidak pernah dapat tuh berapa harga harga crude oilnya, cost recovery ataupun distribusinya,” keluhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Arief mengkritik alasan pemerintah untuk menaikkan harga bbm. Pemerintah mengatakan kalau harga bbm tidak dinaikkan negara harus mengeluarkan kocek tambahan sebesar 58 triliun. Tapi yang aneh, pemerintah malah menambah utang baru senilai 60 triliun, katanya.

Anggota Komisi XI DPR ini mendesak pemerintah mencari cara alternatif yang tidak membebani rakyat. Menurutnya, tahun ini terjadi penurunan pemasukan negara senilai Rp. 53 triliun. “Makin kreatif menemukan cara menambah pendapatan negara, makin besar pula penerimaan negara. Makin besar penerimaan negara makin makmur,” pungkas Arif. (HST)