Tiga Kandidat Calon Presiden Iran Bersaing Ketat

 

 

 

Teheran, Sayangi.com – Ketika Iran dihadapkan dengan keputusan sulit, mereka biasanya berbicara dengan teman dan keluarga mereka. Tetapi jika masalah ini sangat sensitif dan menuntut untuk panggilan ilahi mereka mengangkat telpon saja akan sangat sulit. Dengan situasi yang cukup pelik antara perdebatan pengembangan industri Nuklir Iran, dan pemilu presiden yang dilakukan hari ini, Jumat (14/6).

Seorang Ulama yang tinggal di bekas rumah almarhum Ayatullah Ruhollah Khomeini,pemimpin Revolusi Islam 1979 Iran bernama Farahjolah Moussavi, di Qom, selalu ditanya tentang persoalan hidup yang dialami masyarakat Iran sehari-hari, seperti misalnya, Apa yang harus dilakukan dengan anak kecanduan narkoba? Haruskah kita menerima lamaran pernikahan untuk putri remaja kami? Namun belakangan ia telah mendapatkan pertanyaan dari jenis yang berbeda: Siapa yang harus saya pilih?

Pada tanggal 14 Juni, Masyarakat Iran pergi ke tempat pemungutan suara untuk memilih pengganti Presiden Mahmoud Ahmadinejad, yang telah menjabat dua periode. Enam orang, telah diperiksa oleh kepemimpinan agama Iran, tetapi hanya tiga yang dianggap pesaing serius. Termasuk pihak konservatif perunding nuklir Saeed Jalili dan Walikota Qalibaf, Mohammad-Baqer, seorang yang berasal dari konservatif lain yang memiliki track record yang baik dalam administrasi. Selain itu, Hassan Rowhani, satu-satunya moderat dalam bidang konservatif, yang mengharapkan suaranya bisa didukung oleh kaum muda yang berharap dirinya mampu untuk mengatasi persoalan yang ditimbulkan oleh Ahmad Dinejad selama berkuasa 2 tahun.

Tapi satu hari sebelum pemilihan presiden, Moussavi tidak membuat dukungan. Sebaliknya, katanya, ia menasihati pemohon untuk belajar sampai pada hasil kualifikasi dan platform kandidat keluar. “Al-Quran menyarankan para pengikut Islam untuk mengikuti orang yang mengikuti Tuhan. Seseorang yang saleh dan yang bijaksana. “Itu bukan kriteria berkualitas yang mudah ditebak dari poster kampanye atau debat di televisi, jadi saya tekankan sedikit lebih jauh. Apa yang akan Ayatullah lakukan?,” ujar Moussavi, yang bekerja dengan Khomeini pada hari-hari awal revolusi. Ia memberikan jeda sejenak dalam bicaranya, “Imam itu bukan orang yang tunduk kepada tirani. Kami tidak membuat revolusi ini untuk berada di bawah dominasi negara-negara lain,” tegasnya.

Respon misterius itu menjadi sebuah referensi masyarakat ketika kembali mengingat persoalan sanksi Dunia untuk Iran dimana nal ini menjadi tema utama yang  selalu dibicarakan sepanjang persiapan jelang Pemilu hingga Pemilu dilakukan. Ketika Iran berbicara tentang ekonomi yang buruk, mereka tidak hanya berbicara tentang kemerosotan ekonomi di seluruh dunia, tetapi juga tentang sanksi ekonomi yang diberlakukan terhadap negara itu karena terus menerus memperkaya uranium. Iran mengatakan hal tersebut dilakukan untuk tujuan kedamaian. Masyarakat internasional, bagaimanapun, mengkhawatiran Iran mungkin diam-diam berusaha membangun senjata nuklir, sehingga dunia terus mendesak Iran untuk menghentikan industri tersebut dan mendesak Iran untuk membuat sebuah negosiasi.

Para calon presiden memang cukup mencerminkan nasionalisme dan tunduk pada kepemimpinan agama di negara itu. bahkan, mereka berjanji tidak akan mengkompromikan hak Iran untuk melanjutkan pengembangan nuklir itu untuk tujuan damai. Namun, ada pula salah satu calon yang mengambil garis keras dengan melakukan negosiasi persoalan nuklir itu dengan pihak luar. , Saeed Jalili, yang dianggap mendapat dukungan dari pemuka agama Iran, telah berubah menjadi sebuah kebanggaan nasionalis, menyamakan sanksi dengan serangan eksistensial pada identitas Islam Iran. “Tidak ada kompromi, tidak ada pengajuan, hanya Jalili,” adalah slogan yang disukai pendukungnya.

Persepsi kalangan pemilih adalah bahwa calon moderat Rowhani, yang memimpin putaran pertama perundingan program nuklir Iran diungkapkan pada tahun 2003, mungkin akan lebih lembut dalam melakukan hubungan luar negeri. Sebagai bagian dari negosiasi, Rowhani sepakat untuk menghentikan sementara produksi uranium agar Iran bisa terbebas dari sanksi internasional. 

Pendukung Rowhani percaya bahwa dengan mengambil nada lebih lunak dalam negosiasi internasional ia mungkin akan dapat menjaga program produksi uranium, sementara sanksi akan dicabut. Tapi bagi banyak orang di Qom, di mana nasionalisme terikat paling akut dengan Islam, bersekutu dengan Barat sama saja dengan menjual Revolusi Islam. “Takut senjata nuklir hanya dalih,” kata Mehdi Saadat, yang menjalankan sebuah kafe video-game di Qom. “Kita tahu kenyataannya. Barat adalah musuh kita. Mereka telah melakukan penindasan pada kami sejak masa revolusi,” lanjutnya. 

Sementara Barat mungkin melihat sanksi sebagai hukuman atas sikap keras Iran dalam masalah nuklir, banyak orang Iran melihat mereka dalam konteks dorongan untuk perubahan rezim, kata seorang diplomat Barat di Teheran. Sejauh ini, putaran terbaru dari sanksi telah mencapai sedikit lebih banyak daripada persoalan ekonomi. “Apa kita sudah benar untuk memberikan sanksi ini pada Iran dan bisa menghentikan produksi uranium yang dilakukan Iran?” Pertanyaan diplomat, yang meminta untuk tidak diidentifikasi karena topik yang cukup sensitif ini. “Iran telah menyatakan dengan jelas bahwa mereka tidak akan menghentikan program nuklir mereka. Jadi jika idenya adalah untuk membuat perekonomian turun sehingga membuat orang-orang turun ke jalan, maka tujuannya adalah untuk menggulingkan pemerintah. “Bukan berarti Iran tidak mengerti akan hal ini percayalah skenario seperti itu tidak akan pernah terjadi. “Orang tidak akan pernah mencoba untuk menggulingkan pemerintah, tidak peduli seberapa kuat diberikan sanksi,” kata wartawan 21 tahun Kian Rezaaei. Iran mungkin ingin perubahan, tetapi hanya sedikit yang bersedia mengambil risiko seperti dampak pemberontakan seperti yang mengikuti pemilu tahun 2009, ketika seorang kandidat oposisi populer kalah dengan Ahmadinejad. Jutaan orang turun ke jalan untuk memprotes apa yang mereka lihat sebagai kecurangan. Tindakan keras brutal, yang mengakibatkan puluhan kematian, penjara massa dan pemukulan. “Tak seorang pun akan mencoba untuk menurun pemerintahan saat ini,” kata penjaga toko 56 tahun Mitra Javanpoor. “Kami telah melihat apa yang terjadi. Kami terlalu takut. “

Jika ada, kebencian atas sanksi telah mendorong pemilih menuju kamp konservatif. Jalili telah mengambil sikap dengan menyerukan “ekonomi perlawanan” di mana Iran berbalik terhadap Barat dan membuktikan kepada dunia bahwa Iran dapat berdiri sendiri. Ini telah terbukti menjadi tema cukup populer. “Semakin Barat mendorong kita, semakin kita menjadi kuat,” kata Hamid Esmail, seorang pemilik toko 30 tahun mengambil istirahat di salah satu kafe shisha Qom itu. “Mungkin sanksi telah memperlambat kemajuan kita. Tapi Anda akan melihat, kita akan menjadi lebih kuat dan lebih mandiri. “

Itu membuat masyarakat di Qom berkesimpulan bahwa waktu yang akan menjawab siapa yang akan menjadi Presiden nanti, namun mereka sangat meyakini bahwa  Rowhani bukanlah suatu pilihan. Jika hal yang sama berlaku di seluruh negeri (tidak ada polling yang akurat di Iran), Jika tidak ada kandidat yang memenangkan suara mayoritas, maka pemilu akan diulang seminggu kemudian. Kemungkinan besar Jalili – akan membuat perdebatan sanksi bahkan lebih bernada. Dan Moussavi, ulama tempat masyarakat berkeluh kesah yang tinggal di rumah tua Khomeini, akan menghadapi babak baru pertanyaan pemilu dan menunggu hasilnya. (FIT/Times)