Acuh Peringatan Endorgan, Demonstran Tetap Duduki Taman

Istanbul, Sayangi.com – Merasa tak puas dengan hasil pertemuan dengan Endorgan, Demonstran tak berniat untuk meninggalkan Taman Gezi. Mereka mengaku akan tetap di Taman Gezi sampai tuntutan mereka dipenuhi oleh Endorgan. Bahkan semakin hari, ribuan orang berduyun-duyun datang untuk bersolidaritas dan tetap disana sampai tuntutan mereka dipenuhi.

Endorgan mengatakan ia tak akan meneruskan pembangunan Taman Gezi sampai ada putusan pengadilan yang menyebutkan rencana itu akan tetap diteruskan atau dihentikan. Endorgan sempat memberikan peringatan terakhir pada pengunjuk rasa agar mereka segera meninggalkan Taman Gezi. “Mereka mengatakan gerakan mereka adalah gerakan peduli lingkungan. Tapi kalian lihat saja apa jadinya taman Gezi sekarang. Semua tampak kumuh dan kotor. Dimana-mana bau kencing,” teriaknya.

Gerakan penolakan yang dilakukan oleh para aktifis itu merupakan bentuk protes terhadap Endorgan karena kesewenangannya. Mereka telah mengajukan kasus yang dikatakan dalam aspek lingkungan untuk mencoba menghentikan rencana pemugaran Taman Gezi menjadi pusat perbelanjaan. “Taman Gezi tempat tumbuhan langka dan pusat penghijauan di Istanbul. Selain itu, ini merupakan situs warisan budaya alam yang harus dijaga,” aktifis lingkungan yang menjadi salah satu demonstran berpendapat.

Kemarin (14/6) adalah hari paling damai setelah Endorgan melakukan tindak kekerasan dengan memerintahkan aparat kepolisian mengusir para demonstran sejak aksi dilakukan 28 Mei silam. Sebelumnya, ia menyebut para pengunjuk rasa dengan sebutan ekstrimis, pengacau dan bagian dari konspirasi internasional untuk melemahkan Turki. 

Namun tindakannya yang kelewat keras mengakibatkan pihak luar negeri turut bicara dan menghubungkan tindak kekerasan yang dilakukannya dengan penggulingan otokrat Arab 2011 silam yang mengakibatkan gejolak yang disebut Arab Spring dan memperlambat perekonomian.

Jika pengadilan memutuskan mendukung proyek tersebut, ia mengatakan kepada sekelompok seniman dan perwakilan demonstran bahwa pemerintah akan membuat sebuah referendum untuk menuntaskan persoalan tersebut.

Dia memberikan peringatan berulang kali pada para demonstran untuk segera menyingkir dari Taman Gezi. Namun, tawarannya tak pernah diindahkan. Apalagi tindakan kerasnya sudah melukai hati masyarakat luas. Mereka yang telah menghabiskan dua minggu untuk berkemah disana dalam kondisi sulit menahan gas air mata dan water canon yang menyemprotkan air dengan cukup keras hingga menewaskan 3 orang dan puluhan ribu orang terluka. “Sampai mati pun kami akan tetap di Taman ini untuk memperjuangkan tuntutan kami,” ujar Tekin Denis (29), seorang akfis. Kelompok Solidaritas untuk Taksim ini melakukan hak mereka untuk berpendapat di muka umum dan baru akan mengumumkan apa yang menjadi skap mereka Sabtu ini. Jumat (14/6) malam mereka melakukan peringatan tewasnya tiga kawan mereka dalam aksi tersebut. 

Gezi telah menjadi titik kumpul bagi puluhan ribu orang yang menolak kebijakan pemerintah. Mereka melakukan aksi turun ke jalan sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap ancaman pemerintah dan kepolisian yang tak berpihak untuk melindungi lingkungan. Mulai dari Nasionalis, Kurdi, feminis, aktivis gay, serikat pekerja dan penggemar sepak bola bersatu untuk pertama kalinya menentang kesewenangan Erdogan, seorang politikus sangat populer dan memegang masa jabatan ketiga. Mereka mengatakan bahwa Endorgan semakin malam semakin otoriter dan kebijakannya mengabaikan perspektif lingkungan. Selain itu, kata mereka, Endorgan juga melakukan upaya memberikan pengaruh Islam untuk mengatur kehidupan pribadi masyarakat Turki (Perutama Turki Muslim telah sekuler sejak didirikan pada tahun 1923).

Lima sampai sepuluh ribu orang, yang sebagian besar di usia dua puluhan, telah berkemah di taman selama lebih dari dua minggu. Mereka telah mendirikan ruang bebas yang terdiri dari tempat makan, klinik hingga tempat pemutaran film. semua dilakukan secara bersama. Setiap malam barisan mereka membengkak oleh ribuah orang yang bergabung. Taman dipenuhi atmosfer kemerdekaan. Kamis (14/6) kemarin, pianis Jerman menyiapkan piano di tengah alun-alun dan menyanyikan lagu milik The Beatless, Let It Be bersama-sama.

“Gezi telah menjadi titik balik bagi Turki. Hal ini telah membuat pergeseran kesadaran masyarakat,” kata Kutlug Ataman, seorang seniman terkenal dan pembuat film.

Endorgan mengatakan ia tak akan mentolerir lagi pendudukan yang dilakukan oleh rakyatnya. Ia bahkan menghimbau para orang tua untuk kembali ke rumah dan mengurus anak-anak mereka. “Kembalilah ke rumah kalian dan urus anak-anak kalian. Gezi adalah taman dan bukan tempat tinggal,” katanya tegas. Namun, meski peringatannya cukup keras, pengunjuk rasa tak menghiraukannya.  Sekelompok ibu-ibu membentuk rantai manusia di sekitar pintu masuk ke taman. “Anda mengatakan kepada kami untuk mengurus anak-anak kami, Maka lihatlah kami membawa mereka kesini,” teriak mereka. (FIT, Time)

Berita Terkait

BAGIKAN