Rohani Raih 51,2% suara, Angin Segar Kaum Reformis Iran

Teheran, Sayangi.com – Ulama Iran, Hassan Rohani mengambil kepemimpinan kuat dalam penghitungan sementara atas rival konservatifnya. Ini menunjukkan ia bisa memenangkan Pemilu hanya dalam satu putaran saja. 

Ini artinya memungkinkan akan ada perubahan besar hubungan antara Iran dengan dunia atau akan menyebabkan pergeseran dalam kebijakan Republik Islam mengenai program nuklirnya yang disengketakan akibat masalah keamanan. Hanya saja, persoalan nuklir selalu menjadi keputusan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. 

Tapi tetap saja, presiden memiliki suara penting dalam pengambilan keputusan di dalam negara berpenduduk Muslim Syiah yang berjumlah 75 juta penduduk dan bisa membawa perubahan seperti yang dilakukan Presiden Mahmoud Ahmadinejad dengan gayanya yang konfrontatif, yang secara konstitusional dilarang menjabat sampai tiga kali berturut-turut.

Jika hasil terakhir ia menang, Rohani, yang memang seorang moderat dan merupakan mantan kepala perunding nuklir yang lebih dikenal dengan pendekatan yang damai dengan pihak luar, telah mengindikasikan ia mempromosikan kebijakan luar negeri berdasarkan “interaksi yang konstruktif dengan dunia” dan memberlakukan “hak-hak sipil” bagi warga negara Iran.

Dalam upaya nyata untuk sinyal kontinuitas politik, Khamenei mengatakan pada Sabtu (15/6) bahwa apa pun hasil pemilu hari Jumat (15/6), itu akan menjadi titik balik kepercayaan di Republik Islam selama 34 tahun terakhir.

“Satu suara rakyat penting untuk perubahan Republik Islam Iran,” bunyi kicauan ulama garis keras itu dalam akun resmi twitter miliknya.

“Dengan lebih dari 8 juta suara yang masuk dari jumlah total 50 juta pemilih, Rohani telah mendapatkan 51,2 persen, kata kementerian dalam negeri Iran. Ia membutuhkan lebih dari 50 persen suara untuk menghindari putaran kedua pada 21 Juni. 

Saingan terdekat Rohani adalah berasal dari kelompok konservatif, walikota Teheran, Walikota Mohammad Baqer Qalibaf, yang tertinggal jauh di belakang dengan 16,7 persen. Kandidat garis keras lainnya bahkan sangat jauh dibawahnya.

Kampanye Rohani disahkan oleh mantan presiden Akbar Hashemi Rafsanjani, pejuang saingan Khamenei, setelah yang terakhir, ia telah dilarang mencalonkan diri oleh badan pemeriksaan negara.

Rohani menerima dorongan lebih lanjut besar ketika reformis yang dipimpin oleh mantan presiden Mohammad Khatami turut bergabung dibelakangnya setelah mereka sendiri gagal untuk mencalonkan Mohammad Reza Aref.

Sebaliknya, beberapa konservatif yang memiliki hubungan dekat dengan penguasa administrasi atau Pengawal Revolusi elit gagal bersatu di belakang calon tunggal sehingga terjadi perpecahan cukup parah yang mengakibatkan basis dukungan mereka tidak solid. 

Pengambilan suara yang telah diperpanjang selama 5 jam di beberapa TPS di seluruh dunia dimana penduduk Iran berada pada hari Jum’at ternyata memberikan dukungan mereka sejak 2009 dimana adanya tuduhan manipulasi data yang menyebabkan kerusuhan massa. 

Berita Televisi Iran Menyebutkan Suara yang Masuk Sebesar 80 Persen.

Rohani terkenal sebagai negosiator nuklir Iran dalam pembicaraan dengan Inggris, Perancis dan Jerman antara tahun 2003 dan 2005 bahwa Teheran, Iran setuju untuk menghentikan kegiatan pengayaan uranium untuk mengurangi tekanan Barat pada saat itu.

Dia meninggalkan kedudukannya ketika Ahmadinejad menjadi Presiden tahun 2005, kegiatan pengayaan dilanjutkan dan hampir tidak ada kemajuan dalam pembicaraan intermiten sejak saat itu. Sehingga negara-negara barat memberikan sanksi internasional karena hal itu merusak ekonomi karena semua negara bergantung pada minyak. 

Rohani adalah jembatan penting antara kelompok garis keras di sekitar Khamenei yang menentang hubungan dengan Barat dan reformis yang telah absen selama empat tahun terakhir yang berpendapat bahwa Republik Islam perlu lebih pragmatis dalam hubungan dengan dunia luar sehingga ada ruang untuk bertahan hidup di negara mereka sendiri.

Rohani Ulama kaum menegah Syiah, memiliki kredensial revolusioner yang sempurna dan aktif dalam oposisi untuk menggulingkan shah yang didukung AS pada tahun 1979. Dia juga memegang peran penting sepanjang tahun 1980-1988 dalam perang Iran dengan Irak, termasuk sebagai komandan pertahanan udara nasional, demikian menurut biografi resminya.

Dia tetap berada dalam Dewan Keamanan Nasional Agung dan juga di Dewan Kebijaksanaan dan Majelis Ahli, yang merupakan dua badan penasehat terkemuka dalam struktur kekuasaan multi intern di Iran.

Tapi ia juga telah mempertahankan hubungan dekat dengan Rafsanjani dan didukung oleh Khatami, presiden reformis 1997-2005.

Keamanan ketat yang dilakukan selama pemilu dan minggu tenang kampanye sangat berbeda jika dibandingkan dengan suasana saat Pemilu tahun 2009 dimana rakyat yang saat itu bersorak sorai karena kegembiraan mereka mendengar calon reformis mereka menang.

Namun, harapan mereka pupus ketika hasil pengumuman cepat memberitahukan bahwa Ahmadinejad meraih 63 persen suara, mereka pun memulai serangkaian protes yang berlangsung selama berbulan-bulan dan menyebabkan puluhan pembunuhan dan ratusan penangkapan. (FIT/Reuters)

 

 

 

Berita Terkait

BAGIKAN