Kampung Ambon: Transaksi Narkoba Masih Lancar Jaya

Sayangi.com – Pasca penggerebakan sejumlah rumah pembuatan shabu dan ekstasi di Taman Jeruk V No. 24, Rawa Buaya, Cengkareng Jakarta Barat beberapa waktu lalu, sweeping dan penggerebekan polisi terus berlanjut. Namun bandar dan pengedar yang telanjur berakar tak tinggal diam. Khususnya di kawasan yang biasa disebut Kampung Ambon.

Razia dan penggerebekan polisi masih terus berlanjut di tempat-tempat yang diduga menjadi lokasi peredaran dan pesta narkoba di Kecamatan Cengkareng. Beberapa kali petugas berhasil menggerebek rumah yang diduga menjadi tempat transaksi dan pemakai di Kompleks Permata (Kampung Ambon), Cengkareng. Bahkan bisa dibilang, petugas telah banyak menangkap bandar-bandar besar beserta barang buktinya. Tapi tentu saja tak semua pengedar dan pemakai narkoba di Kampung Ambon tersebut yang tertangkap.

Apalagi pengedar dan pemakai baru terus berdatangan, dan semakin menggila saja. Salah satu warga yang tidak mau menyebutkan nama dan alamat tinggalnya menyatakan bahwa peredaran dan pesta narkoba masih berjalan lancar. “Di sana tuh banyak, Mas. Gue masih sering beli dan makai di sono juga. Iya, banyak. Tapi kalo dari luar, yang belum pernah ke sana mulai berkurang, tapi mereka nyesuain waktu, karna belakangan ini polisi sering dateng, tiba-tiba aja razia gitu,” kata pria yang usianya kira-kira sekitar 25, saat dijumpai wartawan, Sabtu (15/6).

Meski tidak seramai dulu, Kampung Ampon ternyata masih menjadi tempat yang cukup aman untuk bertransaksi. Tapi, dengan seringnya penggerebekan polisi, keberadaan lapak-lapak di Kampung Ambon juga sudah tidak banyak seperti dulu. “Sekarang memang banyak razia polisi, tapi bandar-bandar besar yang enggak ketangkep tetep berjalan. Ya, mau gimana lagi, selain juga udah kebutuhan ekonomi, itu udah jadi kerjaan. Mereka ‘kan juga butuh makan. Mau ngelamar kerjaan di Jakarta susah, dan enggak mungkin orang-orang seperti kami ini diterima,” tuturnya.

Menurutnya, bandar dan pembeli dari luar kampung Ambon itu saat ini tengah menyusun strategi baru dalam aksinya untuk bisa lepas dari razia polisi. “Semua sudah dikendalikan bandar. Kalo gue bukan pengedar, pemakek aja. Kalo ikut-ikut nimbrung itu ya sering, tapi kadang merasa takut ada polisi, tapi ya mau
gimana lagi, semua risiko terima aja,” lanjutnya.

Tampaknya, perlu pendekatan partisipatif, bukan hanya respresif, jika ingin “membersihkan” Kampung Ambon dari Narkoba. (MSR)