Wapres: Uang BLSM Tidak Pengaruhi Pilihan Konstituen

Jakarta, Sayangi.com – Wakil Presiden Boediono menyanggah bahwa bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) akan mempengaruhi pilihan politik penerima bantuan.

“Jadi kalau masih ada yang khawatirkan, barangkali perlu dipikirkan bahwa kalau Rp150.000 empat bulan itu tak ada artinya bagi konstituen kita. Publik kita itu sudah sangat cerdas, jadi uang seperti itu tidak ada artinya untuk pengaruhi pilihan-pilihan mereka,” kata Wapres di kantornya di Jakarta, Selasa (18/6).

Hal itu disampaikan Wapres dalam konferensi pers yang didampingi oleh sejumlah menteri, di antaranya Menteri Keuangan M Chatib Basri, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Armida S Alisjahbana. Selain itu tampak pula Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budyaserta menteri dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yaitu Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring.

Wapres menyampaikan, rumah tangga sasaran yang akan mendapatkan BLSM didasarkan pada survei objektif yang dilakukan Badan Pusat Statistik dan juga dilaksanakan cek ulang oleh pemerintah daerah terutama di desa dan kelurahan.

“Akhirnya kita mendapatkan daftar penduduk Indonesia sampai dengan 40 persen dari segi tingkat sejahteranya. Itu datanya ada, per keluarga alamat namanya dan sebagainya. Jadi ini tidak ada aspek politik,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah akan memastikan bahwa kebijakan perlindungan sosial dapat berjalan dengan baik, sehingga tepat sasaran. Menurut dia, kebijakan BLSM dibutuhkan mengingat pemerintah akan menaikan harga BBM bersubsidi. Kenaikan harga BBM dipastikan akan mendorong kenaikan harga sehingga menimbulkan guncangan pada masyarakat miskin.

Untuk itu, dibutuhkan bantalan bagi masyarakat miskin dalam waktu tertentu untuk menahan guncangan harga tersebut hingga harga kembali normal. “Ini memang diperlukan pengalaman di masa lalu kalau ada penyesuaian harga (BBM), pada 3 – 4 bulan akan ada shock (goncangan), sesuatu yang akan kembali pada sesuatu yang normal. Ini perlu ditampung. Terutama yang faktor ini mereka yang miskin atau pada batasan miskin,” katanya. (HST/ANT)

Berita Terkait

BAGIKAN