Perdagangan Orang Masih Marak

Denpasar, Sayangi.com – Diperkirakan 20 persen dari sekitar 6,5 – 9 juta tenaga kerja Indonesia (TKI) menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking).  

Perkiraan itu diungkap menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Linda Amalia Sari Gumelar dalam sebuah acara Rapat Koordinasi Nasional Perlindungan Perempuan dan Anak, di Den Pasar, Jumat (21/6).

Modus perdagangan orang yang termasuk kejahatan luar biasa (extra ordinary crimes), beber Linda Gumelar, begitu ibu mertua pebulutangkis Taufiq Hidayat itu dipanggil, 70 persen berasal dari pengiriman TKI secara illegal.

Hal itu bisa terjadi, ungkap Linda, pertama tersedianya orang miskin yang butuh pekerjaan, kedua adanya pasar gelap tenaga kerja, dan ketiga tingginya margin keuntungan bagi pemasoknya.
 
Mengutip data Internasional Organization for Migration (IOM), setidaknya 90,3 persen korban perdagangan orang adalah perempuan. Diantara perempuan itu 23 persen masih anak-anak. Tentunya mereka rentan menjadi korban tindak kekerasan.

Itu juga menyebutkan bahwa setidaknya 90,3 persen dari korban tindak pidana perdagangan orang atau TPPO tersebut terdiri dari perempuan dan hampir 23 persen terdiri dari anak, yang merupakan kelompok rentan terhadap kekerasan.

Padahal, sejak meluasnya isu Human Trafficking di Indonesia pada 2007, hingga Indonesia menjadi sorotan dunia internasional, pemerintah sudah menerbitkan Perpres 69/2008sebagai payung hukum Gugus Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang. “Gugus tugas di pemerintah daerah harus diperkuat lagi koordinasinya,” seru Linda Gumelar.

Linda juga mendesak, Gugus Tugas itu lebih meningkatkan kewaspadaannya, mengingat kian canggihnya modus operandi tindak pidana perdagangan orang. “Harus lebih cerdik lagi,” pinta Linda, sehingga angka human trafficking dapat ditekan, dengan tak lupa melakukan pemberdayaan masyarakat tentunya.

Kasus human trafficking di Indonesia jumlahnya cukup fantastis. Di tahun 2011 saja, berdasarkan data yang dirilis International Organization for Migration (IOM), Indonesia menempati posisi teratas dengan jumlah 3.943 korban. Bila dirinci, terbanyak dari Jawa Barat, 920 kasus.

Akhir Januari 2013 lalu, pemerintah kembali memulangkan 82 TKI korban trafficking dari Kuala Lumpur, Malaysia. Sebelumnya, 1 Desember tahun lalu, perwakilan pemerintah Indonesia di Malaysia juga memulangkan 93 TKI korban trafficking. (MARD/Ant)