Tereduksi Kekerasan, Gerakan Brazil Mengendur

Sao Paulo, Sayangi.com – Presiden Brasil Dilma Rousseff berjanji pada hari Jumat (21/6) mengadakan dialog dengan anggota dari gerakan protes yang menggelegak di seluruh negara, Namun, ia juga mengatakan akan melakukan apapun untuk meredam aksi demonstrasi.

“Kita tidak bisa hidup dengan kekerasan ini berlarut-larut. Kekerasan yang terjadi belakangan ini membuat malu Brasil. Semua lembaga dan aparat keamanan publik harus melakukan pencegahan dalam batas-batas hukum yang tentunya tidak boleh melakukan segala bentuk kekerasan dan vandalisme,” katanya dalam pidato yang disiarkan secara nasional.

Rousseff berbicara bahkan setelah demonstrasi baru pecah pada hari Jumat (21/6) termasuk melakukan pemblokiran bandara dimana, kebanyakan penumpang yang masuk atau pun akan keluar dari bandara internasional tersibuk di negara itu sedang berjalan di luar Sao Paulo.

Pimpinan haluan kiri, mantan gerilyawan yang memprotes rezim militer selama tahun 1960, memuji semangat demokratis mayoritas pengunjuk rasa dan mengatakan dia akan mendengarkan tuntutan mereka.

Berbicara dengan tenang tapi tegas, Rousseff mengatakan Brasil memiliki “kesempatan bersejarah” untuk memanfaatkan energi dari protes dan melakukan perbaikan.

Tapi dia memperingatkan gerakan bisa hancur oleh kekerasan seperti yang terlihat pada hari Kamis (20/6), ketika beberapa demonstran menghancurkan gedung, menjarah toko dan menyebabkan kebakaran di belasan kota. Gerakan ini muncul selama seminggu terakhir dan pada akhirnya gerakan sosial media yang dimulai dari puluhan orang di Sao Paulo itu menjadi gerakan yang makin membesar hingga saat ini lebih dari 1 juta orang berdemonstrasi pada Kamis (20/6). Ini merupakan gerakan terbesar di Brazil selama 20 tahun terakhir.

Para pengunjuk rasa memprotes transportasi umum dan kesehatan yang buruk, korupsi miliaran dolar dan pemerintah lebih mengutamakan pengeluaran untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014.

Massa yang mengikuti gerakan protes hari ini (Jumat) terlihat lebih sedikit dibandingkan Kamis. Ini terlihat sedikit aneh. Terlihat reaksi yang cukup ekstrim akibat kekerasan yang terjadi. Kelompok sayap kiri terkemuka melihat hal itu sebagai tanda adanya penghentian pengorganisiran demonstrasi terhenti karena perselisihan.

Tidak seperti gerakan protes di Timur Tengah, protes di Brazil tidak menargetkan salah satu politisi individu dan Rousseff sendiri nampaknya masih relatif populer. Banyak kelas menengah yang diuntungkan dengan ledakan ekonomi baru-baru ini. Namun, mereka marah karena harus membayar pajak setingkat Eropa tetapi mendapatkan fasilitas layanan publik setingkat Afrika. (FIT/Reuters)