Putin Anggap Kekosongan Pemerintahan Assad Berbahaya

St. Petersburg, Sayangi.com – Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan Barat pada Jumat (21/6). Ia menolak untuk mempersenjatai pasukan pemberontak Suriah, yang katanya termasuk kelompok “teroris” dan memperingatkan bahwa membawa Presiden Bashar al-Assad keluar akan mempertaruhkan kekosongan pemerintahan negara dan itu berarti menciptakan kekosongan yang berbahaya.

“Jika Amerika Serikat mengakui salah satu organisasi kunci oposisi Suriah, al-Nusra, sebagai teroris. Bagaimana kita bisa memberikan senjata pada seorang teroris? Dimana peran mereka sebenarnya? Lantas, bagaimana konflik ini akan berakhir?” Putin mengatakan kepada sebuah panel dengan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Putin mengulangi pendapatnya bahwa penyelesaian kasus Suriah haruslah dengan menggunakan hukum yang benar, Ia juga masih berpendapat yang sama bahwa orang luar tidak punya hak untuk menentukan nasib Assad dan Suriah.

“Jika Assad pergi hari ini, kekosongan politik muncul. Lantas siapa yang akan mengisinya? ” Putin mengatakan pada konferensi pers dengan Merkel. “Mungkin mereka memang organisasi teroris. Tapi tak seorang pun ingin ini, hal itu itu tak dapat dihindari setelah mereka semua bersenjata dan agresif,” lanjutnya.

Satu-satunya solusi, katanya, adalah sebuah konferensi perdamaian internasional bahwa Rusia dan Amerika Serikat sedang melakukan upaya untuk mengadakannya.

Seorang penyidik hak asasi manusia PBB memperingatkan pada hari Jumat (21/6) bahwa peningkatan aliran senjata kepada pemerintah Suriah dan pasukan pemberontak kemungkinan akan mengakibatkan peningkatan kejahatan perang dalam perang saudara yang sudah berlangsung selama dua tahun dan telah menewaskan sekitar 93.000 orang.

“Negara-negara yang menyediakan senjata memiliki tanggung jawab dalam hal penggunaanya kemudian. Pada akhirnya senjata itu hanya digunakan untuk melakukan kejahatan perang atau kejahatan kemanusiaan, ” kata Paulo Pinheiro, ketua komisi penyelidikan PBB tentang pelanggaran hak asasi di Suriah. (FIT/Reuters)

Berita Terkait

BAGIKAN