Aviliani: Banyaknya Bank Tier I dan II Jadi Persoalan

Bandung, Sayangi.com – Sekretaris Komite Ekonomi Nasional Aviliani mengatakan, banyaknya jumlah bank dengan tingkat permodalan (tier) I dan II akan menjadi persoalan tersendiri. Sebab tidak mudah mengawasi lembaga keuangan yang masuk dua kategori itu.

“Yang menjadi persoalan saat ini adalah banyak bank yang masuk tier I dan II, tidak gampang mengendalikan keduanya, karena mereka saat ini turut menjalankan usaha-usaha yang hanya boleh dilakukan oleh bank dengan kategori permodalan tier III dan IV,” kata Aviliani saat menjadi pembicara dalam pelatihan wartawan ekonomi dengan tema Mengupas Ketentuan “Multilicense” Perbankan di Bandung, Sabtu (22/6/2013).

Pernyataan Aviliani tersebut menyikapi Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/26/PBI/2012 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank. Dalam aturan itu dijelaskan, bahwa bank dibedakan menurut kategori tier I hingga IV.

Bank kategori tier I yakni bank dengan modal inti di bawah Rp1 triliun dan bank tier II memiliki modal inti minimum Rp1 triliun hingga dibawah Rp5 triliun. Untuk bank tier III memiliki modal inti minimum Rp5 triliun hingga Rp30 triliun dan bank kategori tier IV memiliki modal inti minimum Rp30 triliun.

BI mengatur cakupan produk dan aktivitas yang bisa dilakukan perbankan dengan masing-masing tingkat permodalan. Semakin besar modal perbankan tersebut maka cakupan produk dan aktivitas yang bisa dilakukan semakin beragam. Perbankan diberikan waktu melakukan penyesuaian atas ketentuan itu hingga Juni 2016.

Aviliani mengatakan, saat ini banyak bank kategori tier I dan II yang melayani produk-produk yang hanya boleh dilakukan oleh bank dengan kategori tier III dan IV. Sehingga ketika aturan itu diberlakukan, pilihan bagi bank-bank bermodal kurang dari Rp5 triliun hanya menambah modal atau mengurangi kegiatan usahanya.

“Saat ini bank tier I dan II banyak yang melayani produk seperti reksadana, ‘bancasurrance’, ‘trade finance’. Berdasarkan PBI tersebut produk itu kan hanya boleh dilayani oleh bank tier III dan IV. Maka setelah PBI berlaku bank kecil harus tambah modal atau produk itu ditinggalkan,” kata Aviliani.

Menurut Aviliani bagi bank kecil yang kesulitan menambah modal, maka bank terpaksa meninggalkan produk-produk yang tidak menjadi kewenangannya tersebut. Sehingga bank dengan kategori tier I dan II akan fokus pada bisnis yang menjadi kewenangannya.

Dengan demikian bank tier I dan II akan berhadapan dengan Lembaga Keuangan Mikro dan Bank Perkreditan Rakyat.

“Persaingan itu akan luar biasa. Dari sisi nasabah memang bagus karena suku bunga bisa ditekan, tapi yang perlu diperhatikan adalah kualitas kreditnya yang bisa semakin jelek,” kata dia.

Berdasarkan data yang diberikan Aviliani, saat ini bank tier I berjumlah sebanyak 53 bank, tier II berjumlah 38 bank, tier III sebanyak 14 bank dan tier IV sebanyak empat bank. (Ant)

Berita Terkait

BAGIKAN