93 BMI Dideportasi Pemerintah Malaysia

Nunukan, Sayangi.com – Sembilan puluh tiga Buruh Migran asal Indonesia yang bekerja di perkebunan kelapa sawit di Sabah dideportasi pemerintah Malaysia melalui Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Staf Konsulat Ri Tawau Malaysia, Huzaifah Amin di Nunukan, Jumat malam (21/6), menjelaskan, seluruh WNI bermasalah yang dideportasi kali ini tersangkut kasus tidak memiliki dokumen (paspor) yang sah bekerja di Negera Bagian Sabah Malaysia.

Ke-93 pekerja perkebunan itu sebelum dipulangkan ke Indonesia, telah menjalani hukuman kurungan, ada yang 3 bulan dan ada yang satu tahun penjara. “Semuanya karena kasus dokumen saja. Tidak ada yang dideportasi karena kasus lain seperti narkoba dan perampokan,” ujar Huzaifah Amin di Pelabuhan Internasional Tunon Taka Kabupaten Nunukan.

Ia menambahkan, BMI ini sebagian menggunakan dokumen (paspor) saat masuk bekerja di Sabah namun dinyatakan tidak berlaku lagi setelah tidak mendapatkan jaminan dari majikan masing-masing.

Huzaifah juga menyatakan, diantara BMI yang deportasi, sebagian besar tertangkap oleh aparat kepolisian dan Imigrasi Malaysia karena tidak menggunakan paspor bekerja di negara tetangga itu.

Ke-93 pekerja perkebunan itu 81 laki-laki dan 12 perempuan. Tiba di Kabupaten Nunukan Jumat (21/6) sekitar pukul 20.00 Wita dengan menggunakan KM Francis Expres.

Sekitar pukul 20.30 Wita petugas dari kepolisian dan Balai Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kabupaten Nunukan melakukan pendataan.

Ternyata, sebagian besar diantaranya masih menginginkan kembali ke Sabah untuk bekerja. Sebagian lagi memilih tinggal di Kabupaten Nunukan untuk mencari pekerjaan.

Salah seorang pekerja perkebunan yang ditemui mengaku dirinya tertangkap oleh petugas kepolisian Sabah saat sedang bekerja di perkebunan kelapa sawit di Tawau, karena tidak memiliki paspor. “Saya dikurung selama enam bulan di Tawau,” ucapnya. (MARD/Ant)