Sepp Blatter Desak Rousseff Hentikan Protes

Rio de Janeiro, Sayangi,com – Pimpinan FIFA, Sepp Blatter marah pada Sabtu (23/6) ketika Presiden Brazil, Dilma Rousseff dicemooh di pertandingan Brazil dan Jepang di Brasillia. Para pengunjuk rasa mencoba untuk mengacaukan stadion hingga pertandingan pun menjadi sedikit terganggu. Aparat kepolisian menggunakan gas air mata, water canon, peluru karet dan anjing untuk tetap menjaga agar pengunjuk rasa menjauh dari stadion. Puluhan ribu penggemar bola turut melakukan protes di luar stadion Salvador, Brasilia, Rio dan Belo Horizonte sebagai rangkaian protes nasional yang tumbuh selama dua pekan.

Blatter berusaha melarikan diri dari amuk massa ketika ia melakukan perjalanan ke Turki untuk pertandingan pembukaan Piala Dunia U-20. Sebelum menghilang, ia sempat membuat pernyataan pada wartawan. Ia mengatakan, dengan adanya piala dunia, masyarakat Brazil akan melihat banyaknya perbaikan fasilitas publik seperti bandara, hotel, jalan rasa dan sistem komunikasi.

“Saya bisa mengerti bahwa banyak orang yang berbahagia dengan piala dunia. Tapi sepak bola disini untuk menyatukan orang, menghasilkan kegembiraan dan membawa harapan. Brazil memang diminta sebagai tuan rumah piala dunia tetapi kami tidak pernah memaksa mereka untuk mau. Sudah jelas stadion pasti harus dibangun. tetapi bukan hanya itu, tentu kita butuh hotel, perbaikan jalan, pembangunan bandara dan perbaikan sistem komunikasi mengingat nanti akan banyak tamu asing yang akan datang. Tapi semua fasilitas itu akan menjadi warisan buat masyarakat Brazil,” jelasnya.

Masalahnya, warisan itu memang tidak terjadi setidaknya tidak sesuai dengan yang dikatakan Bratter. Sejak 2007 Brazil dipilih menjadi tuan rumah piala dunia 2014. Namun hingga kini, setidaknya dari 5 kota yang ada di Brazil mengaku tidak akan memiliki jalur yang akan dijanjikan. Seperti bus, kereta api bawah tanah, jalur trem yang katanya akan siap bulan Juni, belum ada sama sekali. Dua tahun yang lewat terbuang percuma.

Seolah-olah belum cukup buruk, anggaran yang diberikan FIFA menuntut adanya ruang VIP, lift untuk stadion dan banyak kemewahan lainnya pada perusahaan konstruksi Brazil sehingga mereka membuat stadion termewah untuk Piala Dunia.Hal itu membuat pengunjuk rasa menyampaikan protesnya pada Kamis (21/6) di stadion yang digunakan sebagai pertandingan piala konfederasi. Namun rupanya, pihak penyelenggara tidak terpengaruh dalam usahanya menyelenggarakan pertandingan.

“Kami belum menerima permintaan untuk meninggalkan Brazil. FIFA, panitia lokal maupun pemerintah federal tidak menginstruksikan kami untuk membatalkan piala konfederasi FIFA,” ujar juru bicara Pekka Odrizola.

Namun, FIFA dan mitra mereka di Brazil mengatakan akan lebih memperhatikan bahwa jika kemarahan rakyat berlanjut bisa menciptakan lingkungan yang tak bersahabat untuk turnamen tahun depan. FIFA meraup lebih dari $ 4 miliar dalam Piala Dunia empat tahun lalu. Tentunya kali ini ia tak ingin kehilangan keuntungan itu. Ada sekitar 600 ribu orang asing yang akan datang ke Amerika Selatan untuk melihat kompetisi bergengsi ini selama sebulan tahun depan.

Sementara itu, pengunjuk rasa meningkatkan tuntutan agar orang asing turut bersolidaritas memboikot acara tersebut. Meski mereka mengaku tidak anti sepak bola dan tidak anti dengan piala dunia, mereka menyesalkan jika negara lebih rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk kemewahan gedung dan stadion mengingat masyarakat masih tinggal di daerah kumuh, sekolah kekurangan dana dan rumah sakit dengan fasilitas yang buruk. (FIT/Reuters)

Berita Terkait

BAGIKAN