Pasukan Oposisi dan Bashar Assad Kerja Sama

Idlib, Syriah, Sayangi,com – Terlepas dari perang yang membelenggu, pemberontak Suriah masih juga melakukan bisnis dengan pemerintahan sama yang ingin mereka gulingkan. Keduanya masih ingin tetap memberikan bahan dasar untuk hidup seperti roti, bahan bakar, air bersih di wilayah yang mereka kuasai.

Da pertukaran yang mereka lakukan karena keduanya masih saling membutuhkan satu sama lain. Di provinsi barat laut Idlib, pemberontak menguasai sebagian besar ladang gandum tetapi tidak memiliki cara untuk menggiling gandum menjadi tepung. Pemerintah memiliki pabrik tepung, tetapi tidak bisa mendapatkan cukup gandum. Sehingga keduanya membuat sebuah kesepakatan. Tiap minggu, para pemberontak memberikan puluhan ribu ton gandum ke pabrik di kota Idlib. Kemudian, pemerintah mengambilnya dan memprosesnya menjadi tepung dan mengirimkannya kembali.

“Gandum tidak ada hubungannya dengan pemerintah, itu adalah sesuatu yang harus menjadi hak semua orang,” kata Abu Hassan, seorang tokoh oposisi yang bekerja di sebuah toko roti di Salqin, sebuah kota di provinsi Idlib.

Suriah masuk ke dalam perang saudara setelah tindakan keras dilakukan pemerintah terhadap protes damai kelompok oposisi yang menentang Presiden Bashar al-Assad pada Maret 2011. Setelah dua tahun konflik, kedua belah pihak telah menemukan cara pragmatis untuk bekerja di sela-sela perang berjalan. Bahkan di saat yang paling keras dan brutal sekalipun.

Di ibukota Damaskus, pengusaha yang tinggal di pinggiran kota yang dikuasai pemberontak, masih bolak-balik ke pusat pemerintahan kemudian mengemudi dengan kecepatan sedang. Anak-anak berjalan melalui perbatasan tersebut untuk sampai ke sekolah, dan warga sipil menyeberang untuk belanja kebutuhan hidup mereka, bahkan kadang-kadang ada juga yang ditembak mati di saat-saat seperti itu.

Pemberontak mengatakan, ketika mereka memasuki kota utara Aleppo, pemerintah memotong pasokan listrik utama. Sebagai balasan, para pemberontak memotong kabel yang digunakan untuk mengaliri listrik ke wilayah pemerintah.

Setelah beberapa minggu, pemerintah sepakat untuk menghidupkan kembali dan pemberontak mengatakan mereka akan memperbaiki tiang listrik. Sehingga sekarang Aleppo memiliki aliran listrik kuat selama 24 jam.

Untuk saat ini kedua belah pihak yang ada dalam perang saudara masih ingin aparat pemerintah untuk bertahan hidup, kata Zaydu.

“Dengan revolusi ini, kami tidak menyingkirkan lembaga negara. Kami menyingkirkan rezim.” (FIT/Time)