Arab Saudi Kirimkan Senjata Canggih untuk Oposisi Suriah

Syria, Sayangi.com – Lawan Internasional Bashar al-Assad, presiden Suriah, sepakat pada Sabtu (22/6) memberikan dukungan militer untuk pemberontak yang bertujuan untuk membendung serangan balik pasukan Assad dan mengimbangi kekuatan pejuang jihad Syiah yang membantu Assad.

Assad berhasil merebut kembali kota perbatasan strategis Qusair, dengan upaya yang dipelopori oleh gerilyawan Hizbullah Lebanon. Pemerintah AS telah merespon dengan mengatakan, untuk pertama kalinya, akan mempersenjatai pemberontak. Sementara sumber Gulf mengatakan Arab Saudi telah mempercepat pengiriman senjata canggih untuk para pemberontak selama seminggu terakhir.

Dua sumber Gulf mengatakan kepada Reuters bahwa Arab Saudi sudah mulai memasok rudal anti-pesawat untuk pemberontak dalam skala kecil dua bulan lalu. Dan kini pengiriman senjata canggih lebih dipercepat lagi. “Dalam minggu terakhir telah datang lebih dari senjata-senjata canggih untuk pemberontak,” ujar salah satu sumber, tanpa memberikan rincian.

Penasihat militer Perancis juga telah membuat langkah maju dalam membantu pemberontak dengan melatih pemberontak di Turki dan Yordania, sumber akrab dengan program pelatihan tersebut. Pasukan AS telah melakukan pelatihan serupa.

Pejuang pemberontak mengatakan mereka perlu anti-pesawat dan senjata anti-tank untuk membendung serangan kembali pasukan Assad dalam perang saudara yang telah menewaskan 93.000 orang itu. Perang yang membuat 1,6 juta masyarakat Suriah ke luar negeri untuk menghindari pertumpahan darah sekaligus perang yang menghabiskan miliaran dolar karena kerusakan properti dan infrastruktur.

Louay Meqdad, juru bicara militer Dewan Agung, yang dipimpin oleh mantan jenderal Suriah, Salim Idriss mengatakan, telah menerima beberapa senjata. “Senjata ini adalah kiriman pertama dari salah satu negara yang mendukung rakyat Suriah dan ada perjanjian jelas dari negara-negara Arab dan asing bahwa akan ada lebih banyak lagi yang mereka kirimkan selama beberapa hari mendatang,” katanya kepada Televisi Reuters di Istanbul.

Sebuah sumber diplomatik Prancis mengatakan, Paris akan meningkatkan bantuan lain selain senjata seperti, peralatan komunikasi, masker gas, kacamata malam dan rompi anti peluru. Hal ini juga mendukung strategi militer dan intelijen medan perang.

“Semua ini sudah dimulai,” kata seorang sumber Barat. “Secara umum, negara-negara Barat akan melakukan hal ini, sementara negara-negara Arab Teluk akan memberikan senjata. Ini adalah pembagian peran. Jika front utara menerima cukup dukungan materi dan non-materi dengan cepat, mereka akan segera setara dengan ribuan laki-laki, atau bahkan puluhan ribu,” tambahnya.

Idriss sendiri mengatakan kepada Al-Jazeera Internasional pada hari Sabtu (22/6) bahwa anak buahnya masih kurang efektif dalam pertahanan udara terhadap serangan pesawat dan helikopter Assad.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan, peran Hizbullah mengubah konflik menjadi “jauh lebih stabil” mengingat situasi tersebut akan memungkinkan terjadinya ledakan situasi yang akan melibatkan seluruh wilayah. (FIT/Guardian)