Jelang Lebaran, BI Minta Masyarakat Waspadai Uang Palsu

Foto: Ant

Yogyakarta, Sayangi.com – Perwakilan Kantor Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta meminta masyarakat di wilayah itu untuk mulai mewaspadai peredaran uang palsu, khususnya di bulan Ramadhan dan saat menjelang Lebaran.

Deputi Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia (BI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Causa Iman Karana mengatakan, meskipun kasus pemalsuan uang di DIY tahun ini masih minim, namun tetap harus diwaspadai.

“Peredaran uang palsu atau upal biasanya tetap rawan terjadi menjelang hari-hari besar atau saat menjelang aktivitas ekonomi yang padat,” ujarnya di Yogyakarta, Rabu (10/7/2013).

Menurut dia, bulan puasa hingga menjelang Lebaran merupakan momentum padatnya aktivitas perekonomian, sehingga dalam situasi seperti itu memungkinkan munculnya potensi pemalsuan uang.

Menurut dia, potensi terjadinya pertukaran uang palsu tersebut biasanya terjadi di pusat aktivitas yang padat oleh masyarakat, seperti di pasar, pertokoan dan sejumlah tempat keramaian lainnya.

“Pemalsuan uang rata-rata dilakukan pada uang dengan besaran Rp50 ribuan, Rp100 ribuan,” kata Causa.

Untuk melengkapi kewaspadaan masyarakat, ia juga mengimbau agar masyarakat dapat mempraktikkan prinsip yang selalu disosialisasikan oleh Bank Indonesia, yakni meraba, melihat dan menerawang setiap pecahan uang yang mereka terima.

“Prinsip D3, yakni diraba, dilihat dan diterawang itu harus diingat terus dan intensif dipraktikkan khususnya hingga menjelang datangnya Lebaran nanti,” kata dia mengingatkan.

Ia menilai meskipun sederhana, namun prinsip 3D yang telah sering disosialisasikan oleh petugas BI itu belum secara optimal dipraktikkan oleh seluruh masyarakat.

“Itu karena seringnya masyarakat masih tergesa-gesa dan malas untuk melakukan prinsip tersebut,” katanya.

Potensi peningkatan peredaran uang palsu di DIY selama 2012 mencapai 1.310 lembar yang meningkat 67 persen dari 2011 yang mencapai 432 lembar. (MI/Ant)