Militer Tawarkan Posisi Kabinet, Ikhwanul Muslimin Tuduh Pemerintah Transisi Fasis

Foto: Antara

Kairo, Sayangi.com– Pertarungan politik mengancam rencana transisi Mesir pada Kamis (11/7) karena militer menindak para pemimpin Ikhwanul Muslimin. Militer menyalahkan Ikhwanul Muslimin dengan tuduhan penghasutan sekaligus menjadi pelaku bentrokan di Kairo di mana tentara menembak mati 53 demonstran.

Hazem el-Beblawi, perdana menteri interim, mengatakan kepada Reuters ia mengharapkan kabinet transisi akan selesai dibentuk pada awal minggu depan saat ia berusaha untuk menerapkan “peta jalan” yang didukung militer dimana kabinetnya berharap terjadinya pemilihan parlemen baru dalam waktu sekitar enam bulan.

Beblawi mengakui bahwa itu akan menjadi sebuah tantangan untuk menemukan persatuan dalam sebuah negara dengan dukungan universal. “Saya tidak percaya bahwa apa pun dapat memiliki persetujuan bulat,” katanya.

Ekonom telah mengindikasikan ia akan terbuka untuk menawarkan pos kabinet untuk Islam, termasuk tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Sementara, Ikhwanul Muslimin mengatakan dengan tegas tidak ada hubungannya dengan pemerintah yang mereka sebut kudeta fasis.

Kekerasan Senin (8/7) antara pendukung mantan Presiden Mohamed Mursi, pemimpin pertama yang dipilih secara bebas di Mesir yang digulingkan oleh tentara minggu lalu mempertunjukkan bahwa tentara di kompleks militer telah membuka celah yang mendalam di negara yang paling padat penduduknya di dunia Arab.

Pada hari Rabu (10/7), jaksa penuntut umum Mesir memerintahkan penangkapan pemimpin Ikhwanul Muslimin, Mohamed Badie dan beberapa Islamis senior lainnya. Hal itu membangkitkan ingatan ketika gerakan itu ditekan di bawah pemerintahan otokratik mantan pemimpin Mesir Hosni Mubarak, yang digulingkan pada 2011.

Juru bicara Ikhwanul Muslimin gehad El-Haddad mengatakan para pemimpin belum ditangkap dan beberapa masih menghadiri protes di masjid Rabaa Adawiya, di mana ribuan pendukung telah berkemah selama dua minggu terakhir meskipun diterjang panas.

Ia mengatakan, tuduhan terhadap mereka menghasut kekerasan itu tidak lebih dari sebuah upaya oleh negara polisi untuk menghentikan protes di Rabaa.

“Apa yang bisa kita lakukan? Dalam sebuah negara ketika polisi adalah penjahat, peradilan adalah pengkhianat dan peneliti adalah perakit, apa yang bisa kita lakukan?” tanyanya.

84 juta orang Mesir semakin membelah menjadi dua kubu antara mereka yang berunjuk rasa pada 30 Juni untuk menuntut pengunduran diri Mursi dan para Ikhwanul muslimin yang marah dan mengatakan hak-hak demokratis mereka telah hancur dalam apa yang mereka sebut sebagai kudeta militer.

Secara terpisah, kelompok yang dipimpin oleh pemuda Tamarud, yang mengkoordinasikan protes massa terhadap Mursi berpusat di Kairo Tahrir Square, mengundang para pengikutnya untuk demonstrasi di sana, juga pada Jumat, dalam sebuah perayaan meriah dari bulan Ramadhan. (FIT/Reuters)