Pengamat: Polri Harus Profesional Usut Laporan Helena dan Kasus Kompol AD

Jakarta, Sayangi.com – Polri diminta profesional dalam menangani dua kasus yang sempat menyerempet Deputi Pemberantasan BNN Inspektur Jenderal Benny Mamoto, dan juga kasus Kompol AD. Demikian disampaikan Pengamat Kepolisian Bambang Widodo Umar saat dikonfirmasi Sayangi.com (Kamis/11/7).

“Dipilah masalahnya. Tangani secara profesional laporan warga masyarakat atas tindakan yang diduga menyalahgunakan wewenang. Juga tangani secara profesional anggota polisi yang masuk ke kantor BNN diduga tidak melalui prosedur,” Bambang menanggapi soal kasus dugaan pencurian dokumen oleh Kompol AD di Kantor BNN, dan laporan Helena terhadap Deputi Pemberantasan BNN Inspektur Jenderal Benny Mamoto.

Ia berharap kedua kasus itu segera diselesaikan oleh kedua belah pihak.

Sebelumnya, Mabes Polri berjanji tetap mengusut laporan seorang pengusaha bernama Helena, terhadap Deputi Pemberantasan BNN Inspektur Jenderal Benny Mamoto, di Bareskrim Mabes Polri.

Benny pada 28 Juni 2013, dilaporkan Helena atas dugaan pemerasan, senilai Rp800 ribu dolar Singapura. Dan diduga menyalahgunalkan wewenang.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Ronny F Sompie memastikan kasus akan tetap diselidiki.Namun penyidik polri dan penyidik BNN fokus dulu pada kasus Kompol AD. Ia berjanji penundaan penyelidikan laporan Helena, tidak menghilangkan pidananya.

“Kalau Helena punya bukti, bukti itu tidak akan hilang,” ungkap Ronny, di Mabes Polri, Rabu kemarin (10/7).

Sementara itu soal pemeriksaan kasus dugaan pencurian dokumen oleh Kompol AD di Gedung Badan Narkotika Nasional (BNN), Irjen Ronny menjelaskan, tim gabungan masih bekerja mengusut kasus itu. Meski BNN tidak jadi melaporkan tindakan Kompol AD, ke Bareskrim Polri. Namun, Ronny memastikan, bila memang ada fakta pencurian, laporan itu bisa ditindaklanjuti. Selain itu, sebagai tanggung jawab moril, Bareskrim tetap lakukan pemeriksaan sebagi bagian pengawasan, termasuk melakukan pemeriksaan CCTV di Gedung BNN. (HST)