Kaburnya Napi Didorong Kondisi Lapas Yang Tak Manusiawi

Foto : Antara

Jakarta, Sayangi.com – Napi juga manusia. Begitu bunyi status facebook seorang teman, menggambarkan kaburnya 200-an nara pidana (Napi) dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tanjung Gusta Medan, Kamis (11/7).

Lapas memang tidak semestinya seperti hotel, macam tahanan koruptor yang terungkap dalam sidak pejabat Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkum & HAM) baru-baru ini. Napi juga tidak perlu diperlakukan istimewa seperti Gayus Tambunan yang bisa jalan-jalan nonton pertandingan tenis ke Bali, sehingga meskipun menyamar menggunakan wig, wajahnya kena jepret kamera wartawan.

Namun Napi juga tidak bisa diperlakukan secara semena-mena. “Apalagi saya dengar di Lapas Tanjung Gusta, 1 kamar dihuni 25 orang, padahal kapasitasnya hanya 7 orang,” ungkap Jopie Lasut, Ketua Justice Fellowship Indonesia yang sudah lebih dari 40 tahun memberikan pelayanan dari penjara ke penjara.

Keterangan resmi menyebutkan, Lapas Kelas 1 Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara, kapasitasnya hanya 1054, namun saat peristiwa kaburnya Napi dihuni oleh 2600-an terpidana. Kondisi itu, imbuh Jopie, diperparah oleh sering padamnya listrik yang membuat ngadatnya pasokan air. “Dengan kondisi yang berdesak-desakaan seperti itu sulit membayangkan, bernapas pun pasti sulit. Apalagi bila tidak ada air’ terang Jopie yang juga pensiunan wartawan Sinar Harapan dan kontributor Radio Nederland.

Sebagaimana diberitakan, akibat listrik padam yang membuat pasokan air terhenti, sejak sore hari ratusan Napi Tanjung Gusta protes dengan membakar barang-barang yang bisa dibakar. Akibatnya terjadi kericuhan yang menyebabkan kaburnya sekitar 200 Napi. “Padahal kami sudah menyalakan genset, tapi tidak cukup,’ terang seorang penjaga Lapas, enggan disebutkan namanya.

Tindakan Napi yang melarikan diri memang tidak bisa ditolerir. Oleh karenanya, Kemenkum & HAM menghimbau masyarakat sekitar Lapas membantu petugas menangkap kembali Napi yang kabur. Polisi setempat pun sigap merazia jalan-jalan yang mengakses ke Tanjung Gusta. “Saya apresiasi tindakan aparat di sana, tapi kejadian seperti itu akan terus berulang selama kondisi Lapas (terus dibiarkan) tidak manusiawi,” terang Jopie.

Mengutip piagam kesemestaan Hak Azasi Manusia, tidak boleh seorang pun dihinakan martabatnya, termasuk para Narapidana. namun tidak boleh pula seseorang yang menjalani hukuman badan, hanya karena memiliki uang atau relasi kekuasaan dibiarkan keluar masuk penjara. “Semua orang, kaya miskin, harus diperlakukan sama di muka hukum dan perundang-undangan,” pungkas Jopie.

Pertanyaannya, sudahkah Napi di Lapas Tanjung Gusta dilindungi hak-hak dan martabat kemanusiaannya? (MARD)

Berita Terkait

BAGIKAN