Muhammad Zimah: Mengembalikan Pemuda Sebagai Subyek Perubahan

Foto: Sayangi.com

Pemuda mendapat tempat yang sangat istimewa dalam rentang perjalanan sejarah indonesia. Peristiwa sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan tahun 1945, gerakan mahasiswa 1966, dan gerakan Reformasi 1998, menjadi potret betapa pentingnya peran pemuda dalam dialektika pejalanan bangsa. Tidak berlebihan jika Ben Anderson menyimpulkan bahwa sejarah indonesia adalah sejarah pemudanya.

Sumbangsih pemuda indonesia bagi kejayaan bangsanya membuat pemuda menjadi subyek yang di berikan amanah dan tanggung jawab sejarah untuk terus menjaga arah dan haluan bangsa sesuai dengan amanah proklamasi. Pemuda identik dengan idealisme, inovasi dan terobosan. Salah satu bentuk kreasi para pemuda indonesia adalah penyatuan ide dan gagasan untuk mendorong realisasi dari cita – cita luhur bangsa.

22 Januari 1972, pemimpin 4 organisasi mahasiswa ekstra universitas (HMI, GMKI, PMKRI, GMNI) sebagai entitas pemuda merumuskan sebuah naskah deklarasi yang dimaksudkan sebagai track pemuda untuk mendorong realisasi cita- cita kemerdekaan. Naskah deklarasi Cipayung tentang “Indonesia yang Kita Cita-citakan” menjadi semacam brighting factor untuk mempersatukan pemuda di tengah sengitnya benturan idoelogi dan trend politik aliran. Kelompok Cipayung lalu digunakan sebagai nama forum bersama organisasi mahasiswa ekstra universitas tersebut, yang selanjutnya menjadi lima organisasi setelah PMII ikut bergabung.

Periode 1972 – 1988 merupakan era emas Kelompok Cipayung. Secara berkala Kelompok Cipayung, yang sering juga disebut sebagai miniatur Pancasila, mengadakan diskusi dan menyampaikan pandangan kritis terhadap situasi nasional saat itu. Pasca 1988, wibawa Kelompok Cipayung mulai merosot, tapi spirit yang tertuang dalam naskah deklarasi Cipayung selalu menjadi rujukan dalam berbagai diskusi yang menyoroti situasi Indonesia kini dan mendatang. Deklarasi cipayung merupakan bukti nyata bahwa kualitas pemuda pada zaman itu sangat mumpuni.

Para pelaku sejarah penulisan naskah deklarasi membuktikan indonesia masih dihuni oleh para pemuda yang memiliki gagasan gilang gemilang, hal mana juga dimiliki para pemuda di era perjuangan merebut kemerdekaan, seperti soekarno, Tan Malaka, Sjahrir, Moh. Hatta dll. Idea dalam naskah cipayung masih tetap relevan sampai dengan hari ini bahkan masa yang akan datang, karena naskah itu dihasilkan dari manifestasi kebenaran universal yang tercantum dalam cita – cita kemerdekaan. produk pemuda saat itu patut diberikan apresiasi tinggi dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

Beralih pada kondisi pemuda hari ini, memang zaman dan iklim kenegaraan yang dialami pemuda hari ini berbeda dengan para pendahulunya. Politik aliran yang berbasis pada ideologisasi sudah sirna. Pergulatan pemikiran dan gagasan dalam pentas politik menjadi hal yang sangat jarang ditemui. Memasuki periode 90’an politik kontemporer dunia memang tidak lagi dihangatkan oleh perseteruan ideologis. Bahkan Francis Fukuyama menyebut berakhirnya perang ideologi sebagai ” the end of history”. Hal itu pun mempengaruhi dinamika kehidupan berbangsa di indonesia.

Pasca reformasi indonesia mengalami demokratisasi besar – besaran . Namun sayangnya arah demokratisasi tidak lagi sejalan dengan cita- cita bangsa. Arus perubahan ini menghadirkan suatu sistem demokrasi yang tak lagi sesuai-jikalau tidak mau di sebut kontradiktif- dengan nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah bangsa. Dalam sistem demokrasi liberal yang diadopsi oleh bangsa ini, kualitas tidak lagi menjadi prioritas. Hal ini adalah dampak dari terjadinya high cost democracy, yang membuka ruang terjadinya praktek – praktek transaksional dalam metode pemilihan pemangku kepentingan negara.

Dengan situasi seperti demikian gagasan dan kreatifitas tak lagi mendapat tempat di perhalatan politik bangsa. Kekuatan finansial seakan menjadi faktor dominan dalam era demokrasi hari ini. Implementasi meritokrasi sama sekali diabaikan dalam mekanisme pemilihan pemimpin di indonesia.

Trickle down effect dari kekeliruan sistem demokrasi yang dianut berdampak juga pada mentalitas pemudanya. Berbeda dari zaman era – era sebelumnya, pemuda hari ini tak lebih menjadi obyek perubahan bukan lagi subyek perubahan. Ironisnya pemuda malah terjebak dengan konsumerisme, hedonisme dan apatisme. Degradasi kualitas pemuda semakin terlihat secara kasat mata. Miskinnya gagasan, ide dan produk dari pemuda masa kini menguatkan hipotesa tersebut. Jika tidak terjadi perubahan fundamental dalam diri pemuda, mudah sekali diteropong bahwa masa depan bangsa ini adalah sebuah masa depan yang gelap gulita.

Untuk mengubah keadaan tersebut, pemuda – pemuda yang masih memiliki kualitas mumpuni harus segera mengambil inisiatif. Inspirasi harus digali dari zaman ketika Kelompok Cipayung dilahirkan. Setidaknya era mereka masih melahirkan produk filosofis yang berkualitas unggul. Jangan jadikan kondisi hari ini sebagai justifikasi dan alibi yang menyebabkan mandulnya pemuda untuk berkarya guna kemaslahatan bangsa. Pemuda yang merasa sadar harus secepatnya merajut kebersamaan dengan sesamanya untuk memikirkan langkah yang tepat mengakhiri kebuntuan bangsa dan negara.

Penyusunan suatu masterplan tentang arah perubahan bangsa dan posisi pemuda dalam mengarahkan bangsa ke arah tujuan semula -seperti yang dilakukan Kelompok Cipayung dulu- harus segera disusun agar generasi pemuda saat ini tidak di kutuk oleh generasinya berikutnya sebagai suatu failed generation (generasi gagal) yang lalai menyelamatkan bangsa dari kehancuran.

* Penulis adalah Ketua Bidang Pemuda DPP Perhimpunan Gerakan Keadilan