Kritik Jero Wacik, Marwan: Blok Mahakam Harus Dikelola Pertamina

Foto: sayangi.com/Okky

Jakarta, Sayangi.com – Direktur Indonesia Resources (IRESS) Marwan Batubara menyayangkan pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik yang menyatakan PT Pertamina (Persero) akan bangkrut jika mengeolola Blok Mahakam, Kalimantan Timur.

“Kita harus mengamankan Blok Mahakam agar dikelola Pertamina. Pasalnya, keuntungan yang akan diperoleh negara bisa mencapai Rp170 Triliun jika diambil alih perusahaan nasional,” ujar Marwan saat diskusi bertajuk “Telaah Penagawasan Terhadap Eksplorasi dan Investasi Migas di Indonesia” yang digelar oleh Forum Untuk Negeri (FUN) di Galeri Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2013).

Pembicara lainnya yang juga hadir dalam acara ini adalah Advisor New Energy & Gressn Technology di PT Pertamina (Persero), Alfian Usman. Sementara moderator dalam kegiatan ini adalah Ketua Umum DPP Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK) Bursah Zarnubi.

Dalam diskusi ini, Marwan juga mengecam ucapan Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini yang meragukan sumber daya manusia (SDM) di Pertamina dalam pengelolaan Blok Mahakam. Menurut Marwan, mestinya Kepala SKK Migas tidak perlu meragukan apalagi menyatakan bahwa investor akan lari jika kontrak Total E&P Indonesia (perusahaan Migas asal Perancis) di Blok penghasil gas terbesar di Indonesia itu tidak dilanjutkan.

“Profesor ITB yang jadi Kepala SKK Migas kok pernyataannya meragukan SDM di Pertamina jika mengambil alih Blok Mahakam. Seharusnya pemerintah mendukung perusahaan nasional untuk mengelolanya. Jelas dua pernyataan itu adalah sebuah pembodohan,” tegasnya.

Diketahui, Total E&P Indonesie, perusahaan Migas asal Perancis ingin secepatnya status perpanjangan kontrak di Blok Mahakam segera diperjelas dan diputuskan oleh pemerintah.

“Industri Migas perlu jangka panjang. Kalau tidak secepatnya diputuskan, maka bisa mempengaruhi penurunan produksi migas bahkan dapat mempengaruhi kontrak pembelian ke sejumlah negara,” ujar Vice President Resources Communications and General Services, Total, Arividya Noviyanto dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Kamis (18/7/2013).

Noviyanto menambahkan, saat ini status perpanjangan kontrak masih terus didiskusikan oleh pemerintah. Total sendiri kata dia, telah mengajukan proposal perpanjangan dengan melakukan komitmen investasi USD7,3 miliar.

Di samping itu lanjut dia, ekspor produk migas sebagai komitmen kontrak penjualan lebih kepada pasar Asia, terutama Jepang dan Korea Selatan. Alasannya karena kedua negara itu lebih banyak menyerap produksi migas untuk perusahaannya.

“Hingga kini sudah banyak yang beli, terutama dari Jepang dan Korea Selatan. Mereka juga sudah mempertanyakan terkait kontrak perpanjangan Blok Mahakam,” pungkas Noviyanto. (MI)

Berita Terkait

BAGIKAN