SKK Migas Diminta Perketat Awasi KKKS

Foto: sayangi.com/Okky

Jakarta, Sayangi.com – Direktur Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara mengatakan, selama sektor Migas dikelola BP Migas yang sekarang beralih nama menjadi SKK Migas, lifting minyak nasional selalu di bawah target. Artinya, dari kebutuhan konsumsi BBM sebanyak 1,4 juta barel per hari, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di bawah komando SKK Migas baru bisa memenuhi setengahnya.

“Realisasi lifting minyak rata-rata baru mencapai 827 ribu barel per hari, di bawah target APBN-P 2013 sebesar 840 ribu barel/hari. Padahal kebutuhan konsumsi BBM mencapai 1,4 juta barel per hari. Dan hampir setengahnya kita impor,” kata Marwan saat diskusi bertajuk “Telaah Pengawasan Terhadap Eksplorasi dan Investasi Migas di Indonesia yang juga dihadiri pihak Pertamina Hulu Energi Alfian Usman dan dimoderatori Ketua Umum DPP Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK) Bursah Zarnubi di Galeri Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2013).

Belum lagi kata Marwan, ketika melihat bagian pemerintah setelah dipotong cost recovery atau biaya investasi eksplorasi KKKS yang ditanggung pemerintah yang hanya 600 ribu barel.

Oleh karenanya, Marwan mempertanyakan transparansi tata niaga migas selama rezim BP Migas berkuasa. Menurutnya, walaupun BP Migas saat ini sudah dibubarkan dan berganti menjadi SKK Migas, tetap saja memiliki fungsi pengawasan terhadap KKKS.

“jika lifting minyak ingin besar dan pendapatan negara dari sektor Migas bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat, tata niaga Migas ini harus diperbaiki Undang-Undang Migasnya,” ungkapnya. (MI)

Berita Terkait

BAGIKAN