Nicholas Maduro Kecam Pernyataan AS atas ‘rezim represif’

Foto: Google.com

Caracas, Sayangi.com – Presiden Venezuela, Nicolas Maduro meminta Amerika Serikat meminta maaf pada hari Kamis (18/7) setelah calon pemerintahan Obama untuk utusan PBB mengatakan ada tindakan keras yang dilakukan terhadap masyarakat sipil di negara Amerika Selatan.

Maduro sering bentrok dengan Washington sejak memenangkan Pemilu April setelah kematian mentornya, pemimpin sosialis Hugo Chavez. Dia mengatakan komentar Samantha Power ke sidang konfirmasi Senat telah agresif dan tidak adil.

“Saya ingin koreksi langsung dari pemerintah AS,” kata Maduro dalam komentar yang disiarkan langsung di televisi negara.

“Power mengatakan dia akan melawan represi di Venezuela. Represi apa memangnya? Yang benar itu, ada represi di Amerika Serikat, di mana mereka membunuh Afrika-Amerika dengan impunitas, dan di mana mereka berburu pemain politik muda Edward Snowden hanya karena Snowden mengatakan hal yang sebenarnya,” katanya

Komentarnya itu tampaknya mengacu pada putusan tidak bersalah yang dijatuhkan dalam sidang pembunuhan yang dilakukan George Zimmerman di Florida pada hari Sabtu lalu karena telah melakukan pembunuhan bersenjata pada remaja berkulit hitam Trayvon Martin.

Maduro menjadi yang paling vokal dari tiga pemimpin Amerika Latin lain yang menawarkan suaka kepada Snowden, pria muda berusia 30 tahun, mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional yang diinginkan oleh Washington karena membocorkan rincian program pengawasan rahasia.

Sejak memangku jabatan menjadi pemimpin Venezuela, dia telah memunculkan sikap yang berbeda. Antara ingin membangun hubungan lebih baik dengan Washington dan mencela dugaan plot AS untuk membunuh dia dan memicu kudeta.

Selama dia melakukan konfirmasi sidang Senat pada Rabu (17/7), Dia bersumpah untuk berdiri melawan “rezim represif”, dan mengatakan bahwa dirinya akan bertarung dalam tindakan keras terhadap masyarakat sipil yang dilakukan di negara-negara seperti Kuba, Iran, Rusia, dan Venezuela.

Maduro, seorang mantan sopir bus dan pemimpin serikat buruh yang menjadi menteri luar negeri Chavez dan wakil presiden, mengatakan “fasis benar” (ditujukan pada Amerika. Red) masyarakat di Venezuela gembira dan bertepuk tangan mendengar komentarnya.

“Dan pemerintah AS mengatakan mereka ingin memiliki hubungan baik. Apa hubungan luar biasa yang mereka inginkan,” ejeknya.

Pada bulan Juni, Menteri Luar Negeri Venezuela Elias Jaua bertemu Menteri Luar Negeri AS John Kerry di sela-sela pertemuan puncak regional. Pertemuan itu dipandang sebagai tanda peningkatan hubungan setelah tahun permusuhan selama pemerintahan Chavez 14 tahun.

Tapi tabrakan terbaru datang ketika Maduro menjadi pemimpin asing pertama yang mengatakan secara eksplisit bahwa ia menawarkan suaka kepada Snowden, leaker NSA yang telah terperangkap di zona transit bandara Moskow selama lebih dari tiga minggu.

Bolivia dan Nikaragua juga kemudian menawarinya suaka, tetapi pemerintah Venezuela mengatakan pihaknya bisa berbuat banyak untuk membantu dia selama dia masih terjebak di bandara. (FIT/Reuters)

Berita Terkait

BAGIKAN