Kementan: Kenaikan Harga Pangan Karena Terjadi Kepanikan Pasar

Foto: setjen.deptan.go.id

Jakarta, Sayangi.com – Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanudin Ibrahim menyatakan, salah satu penyebab kenaikan harga bawang dan komoditas pangan lainnya karena terjadi kepanikan pasar (panic buying).

“Ada faktor psikis karena publisitas yang besar terkait gonjang-ganjing kenaikan harga bahan pangan. Jadi mereka panik,” ungkap Hasanudin di sela diskusi bertajuk “Lebaran, Rakyat Sangup Beli Ketupat?” yang digelar Asosiasi Hortikultura Nasional (AHN) di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat (19/7/2013).

Menurutnya ada banyak alasan kenapa terjadi kepanikan ini. Misalnya pedagang di luar Jawa ketika terjadi panen bawang di luar Jawa membawa hasil panen itu ke Jawa dan menjualnya dengan harga tinggi. Selain itu, faktor anomali cuaca yang tidak menentu membuat panen di beberapa daerah tertunda, bahkan ada yang rusak karena kemarau basah yang melanda Indonesia medio Juli hingga Agustus ini.

“Dalam musim panen bawang merah dicontohkan seperti kurva U terbalik, meskipun saat ini bulan Juli sudah masuk musim panen di Bima, lalu di Brebes bulan Agustus, dan di daerah lain di bulan September diperkirakan tetap tidak bisa menurunkan harga bawang,” urainya.

Dirjen Holtikultura menuturkan, saat ini kurva memasuki bulan Juli, Agustus, September.

“Sebenarnya kan sekarang musim kering bawang itu di panen musim kering, kan umbi di bawah tanah. Namun karena ini anomali cuaca yang membuat cuaca tidak menentu,” sambungnya.

Namun pemerintah, berharap musim panen tersebut bisa membuat harga bawang merah turun.

Hasanudin memprediksi harga bawang akan tetap tinggi pada tahun 2013. Ini dengan melihat melonjaknya harga bawang pada triwulan I-2013.

“Harga bawang merah akan tetap tinggi karena pada saat harga yang tinggi, para petani menjual semua produksi bawang merah serta benihnya,” imbuhnya.

“Untuk bawang merah ini menjadi persoalan yang mempunyai efek berkepanjangan. Petani malah jual semua, lalu buat benih untuk musim tanam tidak ada. Akhirnya mencari benih sulit.” (MI)