Sekjen Prodem: Jangan Tertipu Dengan Elektabilitas Jokowi

Foto: sayangi.com/kholik

Jakarta, Sayangi.com – Popularitas dan elektablitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi terus melonjak. Elektabilitas mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah ini mengalahkan Megawati Soekarno Putri, Prabowo Subianto, dan Aburizal Bakrie berdasarkan hasil survei yang dipublikasikan oleh Indonesia Research Centre (IRC), Lembaga Survei Nusantara (LSN), dan Soegeng Sarjadi Sindicates (SSS) baru-baru ini.

Direktur SUN Institute sekaligus Sekjen Prodem Andrianto, menilai wajar elektabilitas Jokowi yang begitu tinggi karena di masyarakat ada kerinduan terhadap figur-figur alternatif.  Kebanyakan pemimpin parpol saat ini figur lama dan cenderung bergaya birokratis. Sementara Jokowi tampil apa adanya dan merakyat. “Tapi jangan lupa, popularitas Jokowi itu juga hasil dari tim pencitraannya yang serius menggarap media, termasuk media sosial semisal Facebook dan twitter,” ujar Andrianto dalam perbincangan dengan Sayangi.com di kantornya, Tebet, Kamis (25/7) sore.

Andrianto mengingatkan agar masyarakat tidak tertipu dengan elektabilitas Jokowi yang tinggi saat ini, karena sebetulnya belum ada prestasi Jokowi yang bisa ditonjolkan. Hampir setahun memimpin Jakarta, Jokowi belum berhasil mengatasi problem macet dan banjir. Meski begitu, Jokowi tetap saja jadi tokoh paling populer dan elektabilitasnya tertinggi untuk menjadi capres.

Elektabilitas, menurut Andrianto, cuma satu parameter. Bukan berarti mencerminkan kemenangan. “Orang melihat kalau elektabilitasnya tinggi itu menang. Padahal belum tentu. Kita berkaca saja pada pemilukada di sejumlah daerah, seperti di Pilgub Jawa Barat dan Pilgub di DKI Jakarta sendiri. Foke yang elektabilitasnya tertinggi dan semula dianggap akan menang, ternyata kalah,” ujarnya.

Andrianto berpendapat, persaingan figur calon presiden masih terbuka mengingat pelaksanaan Pilpres masih menyisakan waktu setahun. Tidak tertutup kemungkinan akan muncul figur lain yang elektabilitasnya menyalip Jokowi. “Kalau kita mengacu ke Pilpres tahun 2004, munculnya SBY itu juga tiga bulan terakhir saja. Itu bisa muncul sedemikian cepat,” ujarnya.  (RH)