KPU Diduga Lakukan Pelanggaran Sistematis di Nagekeo

Foto: sergapntt.com

Jakarta, Sayangi.com – Pakar Pemilu Refly Harun bersaksi di Mahkamah Konstitusi bahwa ada kesengajaan dari Komosi Pemilihan Umum (KPU) saat mereka menggunakan logistik pemilu yang tidak asli, tidak standar, bahkan salah dalam Pilkada Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

“Perbuatan tersebut dilakukan secara sistematis, terstruktur, dan masif,” kata Refly, saat memberi keterangan sebagai saksi ahli di sidang sengketa Pilkada Nagekeo di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Jumat (26/7). Menurut dia, perbuatan KPU tersebut telah mencederai prinsip atau standar pemilu yang demokratis dan melanggar asas penyelenggara pemilu, seperti asas kepastian hukum, tertib, dan profesional. “Untuk itu, mengulang pemungutan suara merupakan langkah adil untuk menjaga integritas Pilkada Nagekeo,” kata Refly.

Sementara saksi yang diajukan KPU, Sekretaris Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Vitalis Ladoh membenarkan adanya fotokopi formulir model C1-KWK KPU yang digunakan untuk bimbingan teknis (bimtek) para penyelenggara pemilu. “Memang benar ada fotokopi formulir model C1-KWK KPU, namun bukan digunakan untuk Pemilu, melainkan untuk bimtek,” kata Vitalis, di depan majelis panel yang diketuai Achmad Sodiki.

Sengketa Pilkada Nagekeo diajukan oleh tiga pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati, pasangan Piet J Nuwa Wea-Florentinus Pone, pasangan Lukas A Tonga-Yosef Juwa Dobe Ngole, dan pasangan Johanes Don Bos Co-Gaspar Batu Bata. Mereka melaporkan bahwa dalam Pilkada Nagekeo telah terjadi pelanggaran secara terstruktur, sistematis, dan masif yang dilakukan oleh KPU.

Beberapa pelanggaran yang dilakukan diantaranya penghitungan jumlah suara yang tercantum di formulir model C1-KWK KPU berbeda dengan lampiran DA1-KWK KPU, KPU menyebarkan atau mengedarkan formulir model C1-KWK KPU ke seluruh PPS dalam bentuk fotokopi, serta penggunaan logistik surat suara yang tercetak sebagai KPU Kabupaten Sika di semua TPS tujuh kecamatan di Kabupaten Nagekeo.

Pilkada Nagekeo diikuti oleh tujuh pasangan dan yang berhak bersaing dalam putaran kedua adalah pasangan Elias Jo-Paul Nuwa Veto yang memperoleh 19.534 suara (28,62 persen) serta pasangan Phodi Servasius-Ibrahim Yusuf yang mendapatkan 13.188 suara (19.50 persen).

Sedangkan lima pasangan lainnya gagal maju ke putaran kedua, yakni pasangan Piet Nuwa Wea-Florentinus Pone hanya memperoleh 4.926 suara (7,28 persen), pasangan Theofilus Woghe-Haji Ahmad Daeng memperoleh 6.240 suara (9,23 persen), pasangan Lukas Tonga-Yosep Juwa Dobe Ngole mendapatkan 5.165 suara (7,64 persen), pasangan Johanes Don Bosco-Gaspar Batu Bata mendapatkan 12.965 suara (19,17 persen) dan pasangan Wolfgang Lena-Rikardus Wawo memperoleh 5.790 suara (8,56 persen). (MSR/ANT)