Demonstran Pro Mursi Tolak Akhiri Aksi Pendudukan

Foto: The Telegraph

Kairo, Sayangi.com – Pendukung Morsi Mesir menolak tuntutan militer untuk mengakhiri protes di Kairo. Puluhan ribu pendukung Presiden Mesir yang digulingkan, Mohammed Mursi, hari Jumat bersitegang dengan tentara dan polisi dengan menolak tuntutan mereka untuk mengakhiri aksi duduk di Kairo.

Koalisi yang dipimpin oleh Mursi, Ikhwanul Muslimin, mengatakan bahwa daripada membubarkan protes, mereka lebih suka untuk menggelar aksi lebih besar lagi di seluruh ibukota setelah sholat jumat yang terakhir di bulan Ramadan.

Polisi mengatakan para pengunjuk rasa untuk segera meninggalkan jalan-jalan setelah pernyataan menuntut bahwa mereka akan menggelar aksi pendudukan sejak Rabu sore. Mereka tidak memberikan batas waktu yang tepat, juga tidak mengatakan sampai kapan mereka akan melakukan pendudukan termasuk anak-anak dan wanita.

Pada hari Kamis mereka menawarkan para demonstran untuk meninggalkan jalanan tanpa takut harus ditangkap dan ditembaki. Namun para pengunjuk rasa justru mengeluarkan pernyataan yang menyerukan pada dunia luar untuk bangkit dalam solidaritas dengan rakyat Mesir yang didesak untuk berkumpul di semua jalan-jalan Mesir, di semua provinsi, kota dan desa.

Dikatakan, penyebabnya adalah penegasan hak semua orang untuk memilih siapa yang mengatur urusan mereka, dan menolak kudeta militer. Para pengunjuk rasa percaya bahwa mereka dilindungi dari serangan yang akan terjadi dengan kunjungan minggu ini dari suksesi calon mediator, termasuk Baroness Ashton, urusan perwakilan luar negeri Uni Eropa, yang bertemu Mursi. Serta Bernardino Leon, dan Guido Westerwelle, menteri luar negeri Jerman, yang bertemu rekan Mesir pada hari Kamis.

Namun, kepemimpinan sipil sementara mengaku ingin menghindari kekerasan, pasukan keamanan mulai menunjukkan rasa penyesalan mereka atas tindakan gegabah yang mereka timbulkan dan menyebabkan lebih dari 50 pengunjuk rasa ditembak mati dalam satu bentrokan pada 8 Juli, dan setidaknya 82 orang lagi ditembak mati, Sabtu lalu.

Media pro-rezim terus menerus mengulangi kampanye pro pemerintah sementara bahwa tidak ada negara lain yang akan mendukung jalannya kelompok ikhwanul muslimin.

“Sebagai warga negara Mesir saya sangat senang dengan adanya kudeta militer. Saya sangat tertekan ketika Ikhwanul Muslimin yang berkuasa Saya berpikir untuk meninggalkan negara itu. Tapi jawaban saya sebagai pengacara adalah bahwa itu adalah melawan hukum dan bertentangan dengan konstitusi, ilegal,” ujar salah seorang penduduk Mesir yang tak mau disebutkan namanya. (FIT/the telegraph)