Inilah Empat Defisit Ekonomi yang Melanda Indonesia

Foto: Ant

Jakarta, Sayangi.com – Ketua Lembaga Pengkajian Penelitian dan Pengembangan Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (LP3E Kadin) Didik J. Rachbini mengatakan ekonomi nasional terus mengalami kesulitan sebagai akibat dari empat jenis defisit yang sedang terjadi di Indonesia.

“Indonesia sedang dirundung defisit berganda karena kebijakan ekonomi jauh dari memadai untuk mengatasi masalah. “Quatro” (empat) defisit yang bertumpuk-tumpuk ini akan menjadi ‘warisan’ masalah ekonomi bagi presiden yang akan datang,” kata Didik di Jakarta, Jumat (2/7/2013).

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam acara Diskusi Evaluasi Ekonomi Nasional Pasca Kenaikan Harga BBM di Ruang Diskusi Menara Kadin.

Dia menyebutkan keempat jenis defisit yang sedang menjadi kendala ekonomi nasional itu adalah defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, defisit neraca pembayaran, dan defisit primer Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kalau presiden-presiden dulu hanya mewariskan satu masalah ‘abadi’, yaitu defisit neraca transaksi berjalan, dimana APBN dan neraca perdagangan masih surplus. Sekarang sudah empat defisit yang diwariskan,” ujarnya.

Menurut dia, keempat jenis defisit tersebut akan berdampak negatif terhadap kondisi ekonomi nasional di masa depan bila tidak segera mulai ditangani.

“Bagaimana dampaknya (defisit) dengan kondisi ekonomi kita? ya fiskal kita menjadi berat dan itu berakibat pada sektor moneter serta ekspor dan impor pada kegiatan ekonomi riil,” ungkapnya.

Didik mengatakan defisit yang berlangsung sejak lama dan belum menunjukkan tanda perbaikan hingga saat ini adalah defisit transaksi berjalan.

Neraca transaksi berjalan, kata dia, terus-menerus mengalami defisit dan belum memperlihatkan tanda-tanda menuju positif.

“Hal ini disebabkan ‘jebolnya’ transaksi jasa sepanjang sejarah. Pemerintah tidak memiliki strategi mengatasinya, dan hal ini telah dianggap biasa sebagai kejadian rutin,” katanya.

Dia memaparkan pada periode 1981 hingga 1996 Indonesia selalu mengalami defisit neraca transaksi berjalan ketika ekonomi tumbuh dengan laju tinggi.

“Defisit ini tidak perlu dikhawatirkan bila dapat diimbangi oleh masuknya modal, terutama investasi langsung,” katanya.

Sejauh ini, kata dia, ekspor sumber daya alam (SDA) telah menopang nilai ekspor pada neraca transaksi berjalan.

“SDA yang diekspor itu paling banyak barang mentah, seperti batubara dan kelapa sawit. Namun, sudah ditopang dengan ekspor SDA saja masih tetap defisit,” tuturnya.

Selain defisit neraca transaksi berjalan, kata Didik, defisit primer APBN juga terjadi dalam ekonomi pada masa pemerintahan saat ini.

“Inilah jenis defisit pertama kali dalam sejarah sejak 1990. Penyebabnya tidak lain adalah kesalahan dalam mengelola subsidi BBM yang terus ‘membengkak’,” katanya.

Menurut dia, setelah harga BBM dinaikkan dengan tujuan mengurangi beban APBN, ternyata subsidi BBM dalam APBN Perubahan 2013 tidak lebih kecil dari APBN 2013 sebelum diubah.

Selanjutnya, dia mengatakan defisit juga terjadi dalam neraca perdagangan, dimana selama hampir 10 tahun terakhir Indonesia dibanjiri produk-produk buatan China.

“Pada 2007, perdagangan dengan Jepang surplus 3,2 miliar dolar AS, tetapi sekarang defisit 11 miliar dolar AS. Kemudian, perdagangan dengan China, defisit hanya 1,8 miliar dolar AS pada 2007, tapi sekarang defisit mencapai 17 milair dolar,” paparnya.

Dia berpendapat defisit neraca perdagangan itu akan menghambat industri dalam negeri sehingga sektor industri mengalami kesulitan untuk menyerap tenaga kerja.

Pada kesempatan itu, dia berharap agar pemerintah, baik yang sekarang maupun yang akan datang, dapat segera mulai menangani empat masalah defisit tersebut. (MI/Ant)