Aksi Premanisme Marak di Terminal Pulogadung

Foto : Antara

Jakarta, Sayangi.com – Aksi premanisme berkedok karyawan Perusahaan Otobus (PO) meresahkan pemudik di Terminal Pulogadung. Bahkan tas penumpang ditarik-tarik dan dipaksa ikut bus yang mempekerjakannya.  

“Ketika turun dari angkutan umum di depan terminal, saya langsung dipaksa bahkan ditarik untuk menggunakan bus dari PO-nya,” ujar Supardi (38), pemudik tujuan Banyuwangi di Jakarta, Jumat (2/8).

Ia menolak dengan halus. Namun preman berkedok karyawan PO itu malah mengeluarkan kalimat kasar dan bahkan menariknya agar menggunakan bus dari PO-nya.

“Saya khan tujuannya ke Banyuwangi, eh malah dipaksa naik bus jurusan Surabaya, maksudnya apa coba?” gerutu Supardi.

Hal yang sama juga dirasakan oleh pemudik tujuan Yogyakarta, Subagio. Menurut dia, saat dirinya turun dari angkutan umum di depan terminal, ada dua orang pegawai PO yang menanyakan tujuannya.

“Baru datang dan sampai di Terminal Pulogadung saya langsung ditanyakan tujuan pulang kampung dan memaksa saya untuk menggunakan busnya padahal itu bukan tujuan saya,” ujar pria yang berusia 40 tahun itu.

Karena pegawai PO itu memaksa dan menariknya, ia mengurungkan niatnya untuk naik bus dari dalam terminal.

“Terpaksa saya menunggu bus di luar terminal ketimbang naik dari dalam terminal,” kata dia.

Ia mengkhawatirkan jika masuk ke dalam terminal akan berhadapan dengan calo ataupun pegawai PO yang menawarkan harga karcis lebih tinggi.

“Saya kurang yakin dengan keamanan Terminal Pulogadung yang banyak calo dan pegawai PO dimana mereka memaksa untuk membeli tiket. Sudah pasti mereka menjual tiket dengan harga mahal. Tiket dengan harga Rp100 ribu bisa dijual Rp200-250 ribu,” kata dia.

Kepala Pos Pengamanan Terminal Bus Pulogadung Iptu Aston Edward Sinaga, mengatakan jika ada pemudik yang melaporkan pegawai PO yang nakal maka akan ditindak tegas.

“Kalau ada laporan dari pemudik kita proses hukumnya. Tetapi itu bergantung dari pemudik apakah mau diproses hukum atau mengedepankan pendekatan win-win solution daripada dikenakan hukuman. Karena kalau diproses akan bisa makan waktu,” ujar Aston.

Ia terus menghimbau kepada pegawai PO untuk berlaku sopan dan tidak memaksa calon penumpang. (MARD/Ant)

Berita Terkait

BAGIKAN