Triwulan II Tahun Ini, PDRB Kaltim Capai Rp105,1 Triliun

Foto: perkantaskaltim.net

Samarinda, Sayangi.com – Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan harga berlaku pada triwulan dua 2013 mencapai Rp105,1 triliun. Angka ini tumbuh 0,23 persen ketimbang triwulan pertama.

“Ditinjau dari lapangan usaha yang memberikan andil, maka laju pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan dua didorong oleh peningkatan sektor pertambangan dan galian, terutama produksi batu bara,” kata Kepala BPS Perwakilan Kaltim Aden Gultom di Samarinda, Sabtu (3/8/2013).

Ia mengatakan, sektor pertambangan dan penggalian naik 0,52 persen yang dipengaruhi oleh peningkatan subsektor tambang tanpa migas atau batu bara sebesar 1,87 persen.

Sektor lain yang juga memberikan andil yakni perdagangan, hotel, dan restoran yang tumbuh 2,41 persen. Sedangkan kinerja industri pengolahan turun 2,12 persen karena dipengaruhi kinerja industri migas yang turun 3,05 persen.

Ia juga mengatakan, hingga semester pertama 2013 perekonomian nasional masih dibayangi situasi perekonomian global, yakni perkembangannya belum menunjukkan perbaikan berarti.

Kondisi tersebut salah satunya ditunjukkan dengan melemahnya nilai mata uang di sejumlah negara, termasuk volume perdagangan luar negeri yang terus terkoreksi.

Di samping itu, anomali cuaca dan perubahan fungsi lahan pertanian, mengakibatkan penurunan produksi beberapa komoditas tanaman yang merupakan bahan makanan.

Tetapi secara keseluruhan, situasi tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Kaltim pada triwulan II 2013, yakni pertumbuhannya masih positif ketimbang triwulan sebelumnya.

Apabila dilihat menurut sektor ekonomi beradasarkan harga berlaku, maka pada triwulan dua 2013 sektor pertambangan dan penggalian menghasilkan PDRB sebesar Rp46,6 triliun dengan sumbangan pertambangan tanpa migas sebanyak Rp31,1 triliun.

Selanjutnya diikuti sektor industri pengolahan dan nilai tambah bruto sebesar Rp25 triliun, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar Rp9,9 triliun, sektor pertanian Rp6,7 triliun, dan sektor lain seperti angkutan, jasa, bangunan, dan sektor keuangan sebesar Rp5 triliun. (MI/Ant)

Berita Terkait

BAGIKAN