Massa Mengambang = Potensi Bencana Demokrasi

Ilustrasi foto: abahlali.org

Kupang, Sayangi.com – Pengamat politik dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Dr. David Pandie berpendapat, orang-orang yang belum bisa menentukan pilihan alias massa mengambang (swing voters) pada Pemilu 2014 bisa jadi sumber bencana demokrasi.

“Swing voters ini bisa menjadi bencana demokrasi apabila orang-orang ini merasa kecewa dengan partai politik dan para calon anggota legislatif yang parasit Pemilu,” kata David Pandie, di Kupang, Sabtu (3/8) ketika ditanya soal fenomena Golput menjelang Pemilu 2014.

Menurut dia, swing voters sesungguhnya merupakan hal positif sebagai gejala pemilih rasional yang seharusnya terus besar dan berkembang. Dengan demikian, partai politik dapat mengemas program dan calon anggota legislatif yang bermutu agar mampu meraih simpati dalam kompetisi.

“Jadi swing voters itu ada nilai positifnya, yakni mendorong partai untuk berbenah diri, tetapi juga ada sisi negatifnya. Negatifnya adalah dapat menjadi bencana demokrasi apabila mereka jadi kecewa dengan parpol dan Caleg yang parasit pemilu,” katanya.

Dalam hubungan dengan itu pula, gejala ini menandakan bahwa demokrasi di Indonesia memasuki ujian paling berat di Pemilu 2014, karena kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap sistem demokrasi yang sedang dibangun. Karena itu, Indonesia membutuhkan strategi ‘obat’ yang benar-benar ampuh untuk penyehatan demokrasi.

‘Obat’ untuk menyerahat demokrasi ini kata dia, bisa dengan menata ulang regulasi pemilu, dan budaya politik serta perilaku elit politik, sehingga setelah duduk di parlemen, mereka benar-benar bekerja dengan tulus untuk memperjuangkan kepentingan konstituen.

Secara terpisah, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr. Ahmad Atang mengatakan kelompok golongan putih (Golput) dalam sebuah negara yang menganut paham demokrasi merupakan fenomena normal dan biasa-biasa saja. “Namun, pilihan untuk tidak menggunakan hak politik atau Golput harus yang diambil secara rasional, bukan atas dasar emosi jiwa terhadap situasi politik yang ada,” kata Atang.

Di Indonesia, kata dia, fenomena Golput bukan hanya karena faktor politik seperti perilaku elit di parlemen, lemahnya pendidikan politik, sosialisasi politik, dan komunikasi politik tetapi lebih pada soal administrasi kepemiluan. (MSR/ANT)

Berita Terkait

BAGIKAN