Harga Daging Naik Lagi, KDS: Pemerintah Cari-Cari Alasan

Foto: Antara
Jakarta, Sayangi.com – Menjelang dan pasca-lebaran 2013 harga daging sapi kembali merangkak naik. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan berkilah hal itu karena beberapa Rumah Pemotongan Hewan (RPH) libur selama lebaran. Menanggapi itu, Ketua Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta Raya Sarman Simanjorang menilai, pernyataan Mendag tidak masuk akal.
 
Statement Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirajawan yang mengatakan, melonjaknya harga daging sejak menjelang lebaran karena tutupnya beberapa rumah pemotongan hewan (RPH) tidak logis. Kalau menurut hemat saya, bukan karena RPH-nya tutup. Justru sebenarnya, pada hari lebaran gini, RPH buka. Artinya, pemerintah hanya mencari alasan yang tidak masuk akal,” ujar Sarman saat dihubungi Sayangi.com, Senin (12/8).
 
Diketahui, jelang Ramadhan 1434 H harga daging sapi sempat melonjak naik dari Rp75.000 hingga menyentuh Rp120.000 per Kg. Setelah diberlakukan Operasi Pasar Daging Sapi Impor Australia, harga daging sempat turun hingga Rp80.000 per Kg, namun dua-tiga hari jelang lebaran hingga H+3 Lebaran harga daging meroket kembali hingga Rp100.000 per Kg. 
 
Sarman Simanjorang yang juga Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI ini menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang membuat harga daging kembali meroket. Pertama, kedatangan daging dan sapi-sapi hidup siap potong impor terlambat. Sehingga psikologi pasar dikatakan dia sudah terbangun selama 1,5 tahun, bahwa tidak ada kepastian dari pemerintah terkait ketersediaan stok.
 
Kemudian, manajemen stok pemerintah masih buruk. “Bukan hanya daging, semua sembilan bahan pokok menjadi persoalan masyarakat. Jadi, tiga bulan sebelum Ramadan, pemerintah harus sudah mengadakan evaluasi dan menetapkan, berapa jumlah kebutuhan kita berapa, misalnya,” paparnya.
 
Dan yang ketiga, koordinasi antara lembaga-lembaga terkait tidak berjalan dengan baik. “Mereka masih berjalan dengan ego sektoralnya masing-masing,” tegasnya.
 
Jadi kita harus meniru Malaysia, masih dikatakan Sarman, Malaysia juga negara Muslim, tapi tidak pernah harga-harga sembako, harga-harga daging bergejolak menjelang Ramadhan karena mereka punya manajemen stok dan terbuka.
 
Sebelumnya, Kamis (8/8), di rumah dinasnya, Jalan Widya Candra, Jakarta Selatan, Mendag Gita Wirjawan berkilah, kenaikan harga daging menjelang lebaran lantaran beberapa RPH libur sejak H-3. Akibatnya, berimplikasi pada kelangkaan di beberapa titik dan distribusi daging sapi di pasar agak sulit, sehingga harga agak melambung tinggi. VNamun demikian, Gita mengakui banyak juga RPH yang bekerja hingga sehari sebelum Lebaran untuk memotong sapi siap potong yang sudah didatangkan, yakni sekitar 6.100 sapi.
 

Menurut Mendag, lebih dari 6.000 ekor sapi sudah didatangkan dari 25.000 ekor sapi yang sudah dikeluarkan ijin impornya. Sapi-sapi itu akan berdatangan sampai akhir bulan Agustus. Ditambah stok sapi bakalan sampai 109.000 ekor. Sampai awal Agustus sudah lebih dari 90.000 ekor yang sudah dipotong. (HST)