Pengamat: Hatta Rajasa Jangan Dulu Berpikir Jadi Capres

Foto: Sayangi.com/Okky Tirto

Jakarta, Sayangi.com – Saran Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais yang menyatakan PAN harus mempertimbangkan kembali pencapresan Ketua Umumnya, Hatta Rajasa (HR) jika tak bisa mendapatkan dua digit perolehan suara dinilai sebagai pelecut motivasi menyolidkan partai.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Solusi Untuk Negeri (SUN) Institute Andrianto kepada Sayangi.com, Senin (12/8). Dijelaskan dia, PAN saat ini memang harus fokus untuk memperkuat kelembagaan partainya dalam menyongsong Pemilu 2014. “Saya rasa yang sudah dilakukan Ketum PAN Hatta Rajasa untuk memperkuat kelembagaan partai sudah tepat. Jadi, jangan dulu berpikir jadi Capres dan Cawapres jika belum ada peningkatan suara PAN dari 7 persen (pemilu 2009, red) menjadi dua digit, 12 persen seperti yang ditargetkan Pak Amien,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan Andrianto, sebenarnya dalam mengusung Menko Perekonomian Hatta Rajasa sebagai Calon Presiden tidak perlu menunggu perolehan suara PAN hingga dua digit. “Syukur-syukur bisa 12 persen. Saya rasa dengan sendirinya, positioning Capres tertinggi di Republik ini akan datang jika kinerja beliau di pemerintahan dinilai baik. Karena dalam suksesi kepemimpinan itu ada peran ‘tangan Tuhan’ di situ. Jadi, yang penting berkarya dulu,” urainya.

Ditegaskan Andrianto, yang terutama adalah bagaimana program PAN bisa diketahui dan dirasakan masyarakat luas tanpa harus bicara positioning Capres atau Cawapres. “Pak Amien sebagai Ketua Dewan Pertimbangan PAN hanya sebagai motivator, dan beliau merasa berkewajiban untuk meyampaikan itu (realistis pencapresan HR, Red),” ujarnya.

Ada pun jika HR dinilai belum ‘gas poll’ atau kurang gencar lagi berkampanye pencapresannya seperti Capres partai lain, Andrianto mengatakan, HR masih punya tanggung jawab sebagai Menko Perekonomian. “Logikanya sederhana, kalau perekonomian sukses, rakyat akan lihat siapa di belakangnya. Gak ada artinya kalau gembor-gemborkan pencapresan kalau tidak nyata prestasinya. SBY dulu juga gak hingar bingar, gak jelas juga partainya. Jadi Ada faktor ‘garis tangan’ Tuhan disini,” ungkapnya.

Soekarno dijelaskan Andrianto sebagai Presiden RI pertama, garis tangannya telah ditentukan Tuhan. Kata dia, bukan soal Tan Malaka jelek, Syahrir tak mampu, atau tokoh lain kurang berkualitas dibanding Soekarno. “Jadi, kita manusia hanya berusaha, namun tetap Tuhan juga yang punya rencana. Nah, dalam pencapresan inilah fokus yang dilakukan HR tetap berusaha, tanpa harus ‘ngoyo’,” katanya.

Hatta Rajasa dikatakan Andrianto, merupakan salah satu menteri yang berhasil dalam dua periode Kabinet SBY. Melihat lesunya perekonomian Ameerika sampai saat ini ditambah turbulensi ekonomi di Eropa. Lihat bagaimana bangkrutnya salah kota di Amerika. Namun di Indonesia, getaran krisis masih bisa dicegah pemerintah.

“Hari ini mungkin kesejahteraan belum merata, bukan faktor ketidakbecusan Hatta Rajasa sebagai Menko Perekonomian, melainkan beban ekonomi rezim sebelumnya yang sangat berat. Jadi, masyarakat harus fair melihatnya,” tandas Andrianto.

Sebelumnya, Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional Amien Rais menyatakan target partainya dalam pemilihan umum legislatif 2014 adalah masuk posisi tiga besar. Selama ini partai berlambang matahari itu kerap berada di urutan terbawah dari lima besar partai pemenang pada tiga pemilihan umum sebelumnya.

Selain perluasan basis, PAN juga menekankan kadernya untuk tidak melakukan kesalahan dan melanggar hukum. Para kader harus bersih dan menampilkan diri sebagai wakil rakyat yang dekat dengan masyarakat. Apalagi target 12 persen sangat berhubungan dengan target memenangi kursi presiden. PAN yakin, jika dalam pemilu legislatif mendatang mampu mencapai target dua digit, calon presiden mereka pasti menang. Kalau di bawah dua digit, Amien meminta PAN lebih baik realistis saja. (HST)