BlackBerry Galau Berat ….

Foto: ndtv.com

Kanada, Sayangi.com – Peluncuran OS 10 tak mampu mendongkrak kinerja keuangan perusahaan, produsen smartphone yang terkenal lewat layanan BlackBerry Messenger (BBM) ini terancam gulung tikar.

Seperti dilansir BBC, Blackberry tampaknya kesulitan bersaing dengan smartphone stylish Apple dan smartphone cerdas berbasis Android besutan Google. Perusahaan yang bermarkas di Kanada itu kabarnya sudah membentuk sebuah Komite khusus untuk mengkaji alternatif-alternatif bisnis mereka di masa depan, semisal menjalin kerjasama dengan produsen smartphone lain.

Namun alternatif terburuk yang bisa menjadi mimpi buruk juga bagi konsumen pemakai BlackBerry – khususnya fanatikus BBM – adalah dijualnya seluruh aset perusahaan.

Anggota Dewan Direksi BlackBerry Timothy Dattels akan memimpin Komite tersebut, bertugas mengevaluasi penjualan smartphone-smartphone andalan mereka yang berbasis OS 10. “Sepanjang tahun lalu, manajemen dan direksi memusatkan perhatian pada peluncuran Blackberry 10 dan BES 10, memapankan posisi keuangan yang kuat dan mengkaji pendekatan terbaik jangka panjang bagi pelanggan dan pemegang saham,” jelas Timothy. BlackBerry Z10 dipercaya tidak berhasil mengangkat kondisi perusahaan yang kian memburuk.

Bersamaan dengan pembentukan Komite, Prem Watsa dari perusahaan Fairfax Financial – pemilik saham terbesar BlackBerry – mengundurkan diri dari Dewan Direktur. “Namun saya ingin tetap menjadi pendukung kuat perusahaan dan manajemen ketika mereka melangkah maju dalam proses ini dan Fairfax Financial saat ini tidak ingin menjual sahamnya,” jelas Watsa.

Pada Januari 2013, nama Research in Motion atau RIM diganti menjadi BlackBerry sebagai upaya perubahan citra, bersamaan dengan peluncuran BlackBerry 10. Namun upaya itu belum membuahkan hasil. Penjualan BlackBerry Z10 yang terjual satu juta unit hingga Maret 2013 tetap tidak mampu memperbaiki keuangan perusahaan. Dalam tiga bulan terakhir (hingga Juni), BlackBerry rugi Rp 84 juta dolar AS dan diperkirakan terus merugi hingga tiga bulan ke depan. (MSR/BBC)