RI Produsen Mutiara Laut Selatan Terbesar di Dunia

Foto: Sayangi.com

Jakarta, Sayangi.com – Indonesia merupakan produsen Mutiara Laut Selatan atau South Sea Pearls (SSP) terbesar di dunia. Produk mutiara SSP mencapai 6,3 ton atau sebesar 53 persen dari produksi mutiara SSP dunia yang sebanyak 12 ribu kilogram per tahun.

“Tingginya produksi mutiara belum diikuti dengan peningkatan kualitas mutiara,” demikian disampaikan oleh Saut P. Hutagalung, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (13/08/2013).

Akibatnya, harga mutiara Indonesia di pasar dunia dinilai juga masih jauh lebih rendah dibandingkan mutiara asal Australia.

Dari sisi nilai perdagangan Indonesia hanya menempati urutan ke-9 dunia, dengan nilai ekspor sebesar US$29.431.625 atau hanya 2,07% dari total nilai ekspor mutiara di dunia yang mencapai US$ 1.418.881.897. Jauh di bawah Hongkong, China, Jepang, Australia, Tahiti, AS, Swis dan Inggris.

“Namun KKP tetap optimis dapat meningkatkan nilai ekspor tersebut mengingat Indonesia memiliki dan menguasai faktor-faktor pendukung, seperti areal budidaya, tenaga kerja, peralatan pendukung dan teknologi,” katanya.

Untuk mengenjot ekspor mutiara, tambahnya, KKP telah memambangun Broodstock Center kekerangan di Karang Asem, Bali. Kemudian, membentuk Direktorat Pengembangan Produk Nonkonsumsi di bawah Ditjen P2HP KKP. Serta, membentuk Sub Komisi Mutiara Indonesia pada Komisi Hasil Perikanan di bawah koordinasi Ditjen P2HP.

“Yang utama adalah, kami mendorong pengrajin untuk menghasilkan mutiara yang berstandar SNI, sebagai dasar dalam menyusun Standar Operating Procedure Grading mutiara dan perlu ditindaklanjuti dengan membuat Indonesia Quality Pearl Label,” tambahnya.

Sentra pengembangan mutiara di Indonesia tersebar di beberapa daerah yaitu Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat.

Selain itu, Saut merasa prihatin dengan membanjirnya impor mutiara imitasi dan air tawar dengan harga yang murah dari China. Mutiara impor itu masuk ke NTB dan Bali, sehingga mengakibatkan puluhan perusahaan dalam negeri yang bergerak di bidang mutiara terpaksa menutup usahanya karena tidak mampu bersaing dalam soal harga.

“KKP bekerjasama dengan Bea Cukai dan Balai Karantina, Kementan, untuk sama-sama menjalankan Peraturan Menteri KP No. 8 tahun 2013 tentang Pengendalian Mutu Mutiara yang Masuk ke Dalam Wilayah Negara RI,” tambahnya.

Untuk pengembangan pemasaran di dalam negeri, tambahnya, setelah sukses menyelenggarakan Indonesia Pearls Festival (IPF) selama 2 tahun terakhir, KKP tahun ini kembali akan menyelenggarakan IPF ketiga.

Yang mengangkat tema “Hidden Treasure of Papua” dengan konsep desain acara bertemakan Papua sebagai salah satu penghasil South Sea Pearls di Indonesia. “Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 2-6 Oktober 2013 bertempat di Merak Room, Jakarta Convention Center,” ujarnya.

“Pameran IPF tahun lalu, berhasil membukukan transaksi penjualan mutiara mencapai 15 miliar rupiah. Tahun ini, kami optimis dapat lebih besar. Masyarakat juga akan kami edukasi untuk bisa membedakan antara mutiara air laut, mutiara air tawar dan mutiara imitasi,” pungkasnya. (VAL)