Bentrok FPI Warga Paciran: Polda Jatim Telah Tetapkan 47 Tersangka

Foto: Antara

Surabaya, Sayangi.com – Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono mengatakan, pihaknya telah menetapkan 47 tersangka dalam kasus bentrok FPI-warga di Paciran, Lamongan, pada 8-12 Agustus.

“42 tersangka dari kelompok FPI Paciran dan lima tersangka dari warga Paciran,” kata Awi di Mapolda Jatim, Selasa (13/8) sore.

Polda Jatim memang telah mengambil alih kasus itu dari Polres Lamongan, lalu mereka melakukan pemeriksaan sejak pagi hingga sore dan akhirnya kami menetapkan 47 tersangka.

Puluhan pelaku dan korban dalam kasus Paciran itu telah menjalani pemeriksaan secara terpisah di Mapolda Jatim pada Selasa (13/8) pukul 08.30 WIB, yakni 42 anggota FPI diperiksa di Ditreskrimsus Polda dan sembilan warga diperiksa di Ditreskrimum.

“Tapi, lima dari sembilan warga Paciran itu ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan empat warga lainnya masih didalami keterlibatannya dalam kasus Paciran itu,” katanya, didampingi sejumlah penyidik Polda Jatim.

Warga Paciran yang menjadi tersangka adalah Slamet Hadiono alias Raden (RD/32 tahun) asal Dengok, Said (SD/17) asal Dengok, Rakum (RK/38) asal Blimbing, Sampurno (SP/19) asal Blimling, dan Zainul Efendi (32) asal Blimbing.

Empat warga Paciran yang masih menjalani pemeriksaan adalah Adi Susanto (AS/29) asal Dengok, Nur Yaqin (NY/41) asal Dengok, Farid Yulianto (FY/24) asal Dengok, dan Fikri (FK/22) asal Dengok.

“Mereka dijerat dengan Pasal 2 Ayat 1 UU Darurat Nomor 12/1951 dan Pasal 170 Ayat 2 KUHP tentang perusakan secara bersama-sama serta penganiayaan, namun ada seorang tersangka yang ditambahi dengan Pasal 160 KUHP tentang penghasutan,” katanya.

Dari puluhan tersangka itu, katanya, telah pula disita petugas barang bukti berupa 36 handphone, sembilan pedang, 14 parang, empat celurit, empat sangkut, tujuh pisau, satu kayu, dan satu selang.

“Semuanya milik 42 anggota FPI itu,” katanya.

Ditanya alasan polisi meyakini 42 orang itu merupakan anggota FPI, ia mengatakan keanggotaan dalam FPI itu merupakan pengakuan ke-42 tersangka itu sendiri.

“Tidak ada kartu anggota yang kami temukan, tapi keanggotaan dalam FPI itu mereka akui sendiri dan pengakuan itu juga sudah masuk ke dalam BAP, sehingga menjadi fakta hukum,” katanya.

Namun, katanya, polisi tidak bermaksud memosisikan FPI sebagai pihak tertuduh.

“Kami tidak melihat apakah mereka anggota FPI atau bukan, kami melihat ‘siapa yang berbuat apa’ sesuai ketentuan hukum, jadi kalau ada anggota FPI berarti menjadi fakta hukum,” katanya.

Mengenai pemicu bentrok di Paciran itu, ia menjelaskan awalnya ada anggota FPI yang menegur warga yang bermain ‘playstation’ pada malam takbiran (7/8), lalu ada warga yang mendamprat dan meludah ke arah anggota FPI itu.

“Pada Kamis (8/8) dini hari (menjelang subuh) ada anggota FPI mendatangi warga yang dituduh meludahi anggota FPI itu hingga terjadi perusakan rumah yang menyebabkan dua orang luka di rumah Muhlis yakni Sundari (istri Zainul Efendi) dan Riyan,” katanya.

Setelah itu, para pelaku pun kabur hingga akhirnya ada aksi balasan dari masyarakat pada Minggu (11/8) yang menyebabkan Hamzah mengalami luka di punggung dan telinga, kemudian pada Senin (12/8) dini hari terjadi “sweeping” FPI kepada warga.

Dalam pemeriksaan yang berlangsung sejak pukul 08.30 WIB hingga pukul 16.30 WIB itu juga terungkap bahwa Muhlis yang menjadi buron (DPO) merupakan residivis dalam kasus narkoba yakni pil koplo.

“Itu terjadi pada beberapa tahun lalu, tapi dia bukan bandar narkoba seperti tuduhan anggota FPI, melainkan pengedar pil koplo, apakah profesi itu masih dijalani hingga sekarang pun masih perlu pembuktian. Yang jelas, tidak ada kaitannya dengan kasus,” katanya.

Di sela-sela pemeriksaan juga ada dukungan kepada anggota FPI dari enam anggota ASOUM (Aliansi Solidaritas untuk Muslim), namun empat anggota FPI Jatim juga datang untuk menegaskan bahwa kepengurusan FPI Paciran sudah lama dibekukan. (VAL/ANT)