Ditengarai Elit Tertentu Ambil Untung Dari Perpanjangan Kontrak Blok Cepu

Jakarta, Sayangi.com – Masuknya perusahaan minyak raksasa asal Amerika Serikat ExxonMobil dan memperpanjang kontraknya dengan pemerintah Indonesia pada 2005 silam, telah mengundang kontroversi yang tak berkesudahan sampai saat ini.

Dosen Pasca Sarjana pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Manageman Bisnis Indonesia di Jakarta, Akhmad Bakhtiar mengatakan, perpanjangan kontrak Blok Cepu oleh ExxonMobil itu mengindikasikan adanya proses politik tingkat tinggi yang melibatkan elit-elit penguasa negeri ini. Dengan argumentasi rasionalnya, para pihak yang terlibat dalam proses negosiasi itu bersepakat untuk menyingkirkan Pertamina demi mengedepankan kepentingan asing. Konstruksi ekonomi politik yang demikian dibangun demi mengamankan kepentingan segelintir orang di negeri ini.

“Dari temuan di lapangan yang didapatkan, menginformasikan bahwa telah terjadi proses politik tingkat tinggi dalam kasus perpanjangan kontrak Blok Cepu,” kata Bakhtiar di Jakarta, Selasa (20/8).

Menurutnya, perpanjangan kontrak Blok Cepu bukan semata-mata persoalan pertambangan atau persoalan dalam lingkup sumber daya alam yang penuh dengan perhitungan untung-rugi ekonomi, melainkan juga persoalan politik. Proses perpanjangan kontrak pada 2005 silam itu, justru lebih bernuansa ekonomi-politik daripada sekedar urusan ekonomi dan pertambangan (minyak dan gas bumi) belaka.

“Sebagai objek pertambangan, di Blok Cepu berlangsung kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kegiatan tersebut dapat menghasilkan uang dalam jumlah besar. Kalangan elit dan/atau para pengambil keputusan melihat bahwa ekonomi tinggi tidak saja dapat memberikan keuntunhan dan pendapatan kepada negara untuk kepentingan pembangunan, tapi juga sangat potensial dalam mendatangkan keuntungan dan pendapatan bagi mereka dan kolompoknya,” pungkasnya.

Dikatakannya, nilai ekonomis yang cukup tinggi itulah yang justru menjadi daya tarik utama, mengapa elit kekuasaan merasa sangat berkepentingan dan ikut bermain dalam perpanjangan kontrak Blok Cepu. Peran elit kemudian sangat menentukan bagaimana proses menuju perpanjangan kontrak, kepada siapa Blok Cepu itu diserahkan, dan berapa lama kontraknya berlaku. Besarnya kepentingan elit dalam perpanjangan kontrak Blok Cepu mengalahkan hal-hak yang jauh lebih mendasar, seperti mengutamakan kepentingan nasional dan pengembangan kemampuan teknologi pertambangan dalam negeri.

“Ada ambisi elit untuk mengambil keuntungan besar sehingga aturan main perpajangan kontrak dibuat sedemikian rupa agar tampak rasional. Selain juga sebagai cara untuk menyembunyikan sesuatu yang lebih besar menyangkut dunia pertambangan di negeri ini. Blok Cepu sendiri sebenarnya bukanlah kasus tunggal yang berdiri sendiri, tapi memiliki rentetan dan historis dengan investasi asing di sektor pertambangan sejak era orde baru dan bahkan masa-masa sebelumnya,” tutupnya. (HST)

Berita Terkait

BAGIKAN