APBN 2014 Dinilai tak Punya Orientasi Jelas

Foto: sayangi.com/istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2014 dinilai tak punya orientasi yang jelas. APBN versi pemerintah masih seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni disusun hanya sekadar menjalankan ritual tahunan.

“Kami memandang, APBN versi pemerintah selama ini disusun hanya sekadar menjalankan ritual tahunan, tanpa orientasi yang jelas untuk memenuhi nilai-nilai konstitusi,” ujar aktivis Koalisi Masyarakt Sipil untuk APBN kepada Sayangi.com, Selasa (20/8/2013).

Desain anggaran menurut Dani belum ditujukan untuk mendorong kemajuan bangsa dan menyejahterakan rakyat banyak. Padahal APBN mestinya didesain sebagai instrumen untuk melaksanakan amanat konstitusi, yaitu mewujudkan kedaulatan rakyat dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Sebaliknya, korupsi anggaran yang semakin marak, inefektif dan inefesien dalam pengelolaan anggaran, menunjukan bahwa APBN yang disusun masih untuk kepentingan segelintir elit dan tidak menjawab persoalan mendasar rakyat Indonesia.

“Akibatnya, APBN gagal berperan optimal untuk mendorong perekonomian. Apalagi untuk menjawab kondisi makroekonomi Indonesia saat ini yang bisa disebut layaknya fatamorgana. Dilihat dari jauh nampak indah, namun ketika ditelisik lebih dalam tidak memiliki kekuatan untuk menggerakan perekonomian pada jangka panjang,” jelas Dani yang juga Koordinator Koalisi Anti Utang (KAU) ini.

Dikatakan Dani, tingginya pertumbuhan ekonomi tidak ada artinya jika sebagian besar masyarakat tidak memeroleh kesejahteraan. Menurutnya, ini seperti tingginya ketimpangan pendapatan atau indeks gini ratio yang mencapai 0,41 serta ketimpangan antar wilayah/pulau di Indonesia, sebagaimana terlihat dari perbandingan antara kontribusi Pulau Jawa dan Luar Pulau Jawa terhadap PDB.

Sebelumnya Presiden SBY dalam Pidato Kenegaraan di depan Anggota MPR/DPR, (16/8/2013), terkait pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2014, menyatakan dalam empat tahun terakhir ini telah banyak hasil-hasil pembangunan yang dapat dinikmati rakyat.

“Kita mencatat bahwa dalam periode 2009-2013 (sampai dengan Juni 2013) kita berhasil memacu pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,9 persen per tahun, lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi lima tahun sebelumnya. Inilah pertumbuhan ekonomi tertinggi, setelah kita mengalami krisis ekonomi lima belas tahun lalu,” ungkap Presiden.

Pada tahun 2004, dikatakan SBY, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tercatat sebesar US$ 645 miliar. Sedangkan saat ini telah mencapai lebih dari US$ 1,1 triliun dalam hal keseimbangan kemampuan berbelanja atau purchasing power parity (PPP).

Disampaikan Presiden SBY, dalam hal pendapatan per kapita, tahun 2004 PDB per kapita Indonesia sebesar US$1.177. Angka ini terus meningkat menjadi US$2.299 pada 2009, dan mencapai US$ 3.592 pada 2012.

“Bila kita terus mampu menjaga pertumbuhan ekonomi kita, maka Insya Allah pada akhir tahun 2014, PDB per kapita akan mendekati US$ 5000.” (MI)

Berita Terkait

BAGIKAN