Telat Panas, Persib Tundukkan Persidafon

Foto: Antara

Bandung, Sayangi.com – Pelatih Persib Bandung Djadjang Nurjaman mengaku timnya terlambat menemukan ritme permainannya kendati mampu mengalahkan Persidafon Dafonsoro 2-1 di Stadion Si Jalak Harupat Soreang Kabupaten Bandung, Selasa.

“Babak pertama tim tidak bermain terlalu bagus, kami lambat mendapat ritme permainan terbaik. Kami harus menunggu hingga pertengahan babak kedua untuk mencetak gol,” kata Djadjang Nurjaman seusai pertandingan timnya.

Ia menyebutkan, ketatnya tekanan para pemain Persidafon cukup besar pengaruhnya bagi tim Persib yang masih terpengaruh oleh ritme tim yang belum pas setelah menjalani libur kompetisi.

Beberapa pertandingan uji coba melawan tim Bandung, belum cukup mengembalikan permainan terbaik Persib. Selain itu ia mengakui dua strikernya Sergio van Dijk dan Hilton Moriera bermain di bawah form, sehingga ia harus memutuskan menurunkan tiga striker dengan memasukan Kenji Adachihara.

Keputusannya memasukan Asri Akbar pada babak kedua cukup tepat mengangkat moril tim. Terlebih dengan gol tembakan gledek Asri yang menembus gawang Persidafon tepat dua menit setelah masuk menggantikan Mbida Messi.

“Meski memenangkan pertandingan, namun kami akui mereka sangat disiplin, 2/3 pertahanan mereka dikawal ketat meski akhirnya kami mampu menembusnya dengan dua pemain pengganti yang gerakannya tak terantisipasi pertahanan mereka,” kata Djadjang.

Hasil tersebut, menurut Jajang merupakan bekal untuk laga berikutnya melawan Persiram Raja Ampat, Minggu (24/8).

Sementara itu Pelatih Persidafon Edi Yuwono menyatakan timnya menerapkan presure ketat kepada para pemain Persib yang memiliki teknis di atas rata-rata. Ia juga mengklaim timnya bermain agresif untuk menghentikan penyerang-penyerang Maung Bandung itu.

“Kami bukan bermain keras tapi lebih tepatnya agresif. Gol-gol Persib seharusnya tidak terjadi dan itu murni kesalahan pemain kami dan itu harus diperbaiki. Namun kami puas karena pemain tetap fight meski bermain dengan sepuluh pemain,” katanya.

Hal itu pula rahasia gol balasan yang dicetak pada penghujung babak kedua.

“Itu bukan gol pemanasan, tapi karena para pemain bermain ‘no thing to lose’, mereka bergerak terus dan tanpa menyerah. Target kami membawa tim ini lolos degradasi,” kata Edi menambahkan. (RH/ANT)