Rupiah Sakit Karena Virus Multidimensi

Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.com – Rupiah terus melemah dalam tiga hari belakangan. Pagi tadi bahkan sempat mencapai level Rp 10.900. Apa faktor penyebabnya?

Menanggapi keperkasaan dolar AS atas rupiah, Anggota Komisi XI DPR-RI Sadar Subagyo menyatakan, masalahnya multidimensi. “Neraca kita twin deficit (neraca pembayaran dan neraca anggaran), transaksi keuangan yang negatif, hutang swasta yang jatuh tempo, inflasi. Kenapa saya katakan utang swasta? Karena jumlahnya besar,” ungkapnya saat dihubungi Sayangi.com, Rabu (21/8).

Selain itu, kata dia, lebih menarik lagi karena hutang ke luar negeri. Nah, persoalannya saat ini adalah suku bunga lebih rendah daripada pinjam di dalam negeri. “Karena faktor pengembalian hutang jatuh tempo, kita jadi repot karena dibutuhkan dolar lebih banyak. Mereka mengatakan, untuk mengimpor, betul. Tapi, bahan bakunya ‘kan beli. Artinya, kita impor komponen, produksinya di sini, ‘kan dijualnya dalam rupiah. Jadi tali-temali ini, akibatnya kayak begitu. Solusinya jangan single solution, kayak menaikan suku bunga,” papar Sadar.

Menaikan suku bunga menurut dia tak ada kaitannya dengan dolar. Menaikan suku bunga, dijelaskan oleh Sadar, terkait dengan inflasi. “Di sisi lain, itu belum mampu menolong, tetap saja kita kekurangan dolar. Sekarang mau enggak hasil ekspor itu masuk ke Indonesia untuk menghasilkan dolar? Jadi sekarang ekspor itu apa semua masuk ke Indonesia? Ternyata enggak. Tapi kalau masuk ke Indonesia, apa saja instrumennya di sini untuk mendapatkan dolar itu? Enggak ada!” tegasnya.

Jadi seharusnya, lanjut dia, jangan lagi dibuat kebijakan tunggal. Moneter itu kebijakan fiskalnya nanti begini, akibatnya ‘kan sektor riilnya yang pontang-panting. “Jangan sampai jadi spiral down, kebijakan tunggal kayak obat nyamuk yang masuk ke dalam dan makin lama, semakin mengecil. Permasalahan multidimensi ini kayak kotak rokok, harus dilihat dari sisi ini bagaimana, dari sisi yang ininya bagaimana. Penyebab utamanya selain defisit, pembayaran jatuh tempo,” ungkap Sadar.

Pembayaran hutang ke luar negeri dikatakan politisi Gerindra itu, di triwulan ketiga terbanyak jatuh temponya. Apakah pasca itu, di triwulan keempat akan pulih? “Cukup gede itu hutang dari pihak swasta. Kalau sebagai pembanding, year on year ‘kan hampir sama. Kalau tahun lalu, itu mencapai 40 miliar dolar AS. Jadi apapun yang akan diambil dampaknya gede,” urai Sadar.

Masih dijelaskan oleh Sadar, hal itu karena dari awal kebijakannya Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan sudah ‘ngawur’. “Pemikirannya sektoral, tidak terintegrasi dan komprehensif,” sesalnya. (MSR)