Anjloknya Rupiah Untungkan Eksportir Kopi

Foto : luwakblackcoffee.com

Medan, Sayangi.com – Eksportir komoditas Sumatera Utara mengaku tertolong dengan menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap mata uang rupiah yang terjadi dewasa ini.

“Menguatnya nilai dolar AS, maka kerugian eksportir dari harga ekspor komoditas yang tren melemah bisa tertutupi sedikit dengan selisih nilai kurs dolar AS dan Rupiah itu,”kata eksportir kopi Sumut, Saidul Alam, di Medan, Rabu (21/8).

Menguatnya dolar AS itu juga, menolong eksportit dari beban kerugian dari harga beli bahan baku yang sempat terbeli dengan harga lebih mahal ketimbang harga ekspor yang tren melemah dampak krisis global.

“Terus terang, kalau dari sisi ekspor, menguatnya dolar AS itu menguntungkan.Tetapi tentunya penguatan dolar AS terhadap Rupiah yang menembus Rp11.000-an itu harus bisa dikendalikan Pemerintah karena merugikan untuk keperluan impor dan termasuk kegiatan bisnis lainnya seperti pinjaman atau kredit,”katanya.

Melemahnya Rupiah, ujar Saidul Alam yang Wakil Ketua Bidang Specialty dan Industri Kopi di Asosiasi Eksportir kopi Indonesia (AEKI) Sumut, dipastikan menimbulkan banyak dampak lainnya dan itu tidak bagus juga untuk eksportir.

“Bagi pengusaha, tidak ada patokan berapa besaran yang pantas atas nilai tukar dolar AS terhadap Rupiah itu. Pengusaha hanya menginginkan nilai tukar mata uang itu stabil,”katanya.

Dia menegaskan, dengan ketidakstabilan nilai tukar mata uang dolar AS terhadap Rupiah, akan menyulitkan pengusaha menjalankan bisnisnya seperti melakukan kontrak dagang.

Dewasa ini, dampak menguatnya dolar AS sudah membuat pergerakan harga komoditas di luar negeri yang dampaknya juga berimbas ke pasar lokal.

Harga kopi arabika asalan misalnya sudah di kisaran Rp24.000-Rp25.000 per kg dimana harga ekspor berkisar 3 dolar AS per kg. (Ant)