Daniel Sahuleka Meriahkan Diaspora Indonesia

Foto : id.wikipedia.org

Jakarta, Sayangi.com – Ruangan pertemuan Balai Sidang Jakarta berubah riuh ketika Daniel Sahuleka naik ke atas panggung dan menyapa sekitar 3.000 orang diaspora yang hadir dalam pembukaan Kongres Diaspora Indonesia kedua pada Senin (19/8).

Tepuk tangan menyambut Daniel, yang ketika itu menggunakan pakaian batik berwarna coklat dengan rambut keriting panjang sepunggung, naik ke panggung ruang pertemuan tersebut. Daniel tampil setelah penampilan penyanyi Indonesia yang bermukim di Amerika Serikat, Layan Pesolima.

Musisi beraliran jazz tersebut membawa sebuah gitar akustik ke atas panggung yang menemaninya menyanyikan sebuah lagu untuk para diaspora. Sebuah lagu berjudul “You Make My World So Colorfull” langsung dinyanyikan dan seketika penonton bersorak.

Bagi beberapa orang sangat mengenal sosok Daniel dan lagunya yang berjudul “You Make My World So Colorfull”. Sebuah lagu pertamanya yang membuat Daniel terkenal hingga ke seluruh dunia pada tahun 1980-an.

Nama Daniel Sahuleka tidak asing bagi masyarakat Indonesia karena merupakan salah satu penyanyi internasional kelahiran Indonesia.

“Saya sering pulang kampung ke Indonesia, setahun bisa dua sampai tiga kali,” kata musisi keturunan Maluku-Sunda.

Ya, Daniel merupakan diaspora Indonesia yang masih mencintai tanah kelahirannya.

Bagi dia, Kongres Diaspora Indonesia memiliki arti penting, bukan hanya sekedar tempat kumpul para diaspora yang ada di luar negeri namun sebagai penguatan identitas kebangsaan. Pria yang sejak umur 10 bulan tinggal di Belanda itu menilai keberadaan diaspora di mana pun di seluruh dunia harus menyadari bahwa masing-masing memiliki darah Indonesia yang tidak bisa hilang.

Diaspora Indonesia adalah komunitas warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri, orang Indonesia keturunan atau yang bukan lagi warga negara Indonesia, serta orang-orang yang mengaku mencintai Indonesia meskipun bukan WNI dan tidak mempunyai keturunan Indonesia.

Hal yang terpenting lain menurut dia, kongres tersebut dimaksudkan agar para keturunan diaspora tidak melupakan identitas tanah air nenek moyangnya. Indonesia yang sudah menjadi darah dan daging para keturunan diaspora.

Pernyataan Daniel tersebut patut digarisbawahi bahwa identitas kebangsaan seorang Indonesia tidak boleh padam meskipun dipisahkan jarak negara.

Kongres Diaspora Indonesia kedua yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri pada 18-20 Agustus 2013 merupakan kelanjutan dari kongres pertama tahun lalu di Los Angeles, Amerika Serikat. Kongres kedua tersebut dihadiri hampir 4.000 orang para diaspora Indonesia yang ada di 55 jaringan di 26 negara.

Bagi Daniel, berkumpulnya para diaspora dalam kongres itu menunjukkan keberagaman yang dimiliki Indonesia dan tidak terdapat di negara lain. Indonesia, menurut pria kelahiran Semarang, 6 Desember 1950, merupakan negara yang besar dan memiliki masyarakat yang majemuk dengan berbagai macam suku, ras, dan agama.

Kemajemukan itu menurut Daniel yang harus selalu dijaga eksistensinya karena merupakan ciri dan identitas kebangsaan Indonesia.

Daniel menceritakan tahun lalu dirinya diundang Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal untuk tampil dalam Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angles. Pada saat itu dia mengatakan, dirinya tidak paham mengenai maksud dan tujuan diselenggarakannya kongres tersebut.

“Tahun lalu saya diundang ketika di Los Angles, sebenarnya saya tidak berpikir jauh tentang diaspora. Namun setelah di telepon Pak Dino (Dubes RI untuk AS) mengenai rencananya, lalu saya pikir itu ide yang bagus,” katanya.

Daniel juga tampil dalam penutupan kongres tersebut pada Selasa (20/8), kali ini sambutan penonton kepada Daniel sangat meriah. Dengan baju hitam dan sepatu casual, Daniel naik ke atas panggung sambil membawa gitar coklatnya.

Setelah tampil menyanyikan dua buah lagu yaitu “You Make My World So Colorfull” dan “Don’t Sleep Away This Night”, sontak para penonton mengatakan “be one more” yang meminta Daniel menyanyikan sebuah lagu dan akhirnya permintaan itu dipenuhinya.

Antusiasme penampilan Daniel di hadapan para diaspora merupakan wujud komitmennya untuk memberikan hiburan bagi ribuan diaspora.

Ketika ditanya mengenai kegembiraannya bertemu dengan ribuan diaspora, dirinya tidak berkata banyak.

“Sebenarnya saya tidak bisa mengucapkan banyak kata-kata atas kebahagiaan saya ini,” kata Daniel.

Indonesia menurut Daniel sering memberikannya inspirasi dalam membuat lagu, meskipun ide menulis lirik tidak bisa diprediksi. Dia mencontohkan lagu “semarang” yang semua isinya terinspirasi dari ibu kota provinsi Jawa Tengah tersebut.

Dia menceritakan tahun 1981 dirinya pertama kali mengunjungi Indonesia dan dirinya tidak tahu sebelumnya. Selain itu menurut dia, Indonesia berada jauh di dalam pikirannya pada saat itu.

Lalu dia menceritakan pengalamannya ketika dirinya membuka pintu pesawat dan menghirup udara Indonesia maka seketika itu dia yakin bahwa dirinya adalah orang Indonesia.

“Tahun 1981 pintu pesawat di buka lalu saya hirup udara Indonesia dan saya berucap saya punya akar sejarah di sini. Dan ketika itu saya katakan bahwa saya orang Indonesia,” ujar pria yang pernah mengisi Java Jazz Festival tahun 2006 di Jakarta.

Penyanyi diaspora Indonesia lain yang tampil dalam Kongres Diaspora Indonesia kedua itu adalah Nabilia Methaya Pesulima Putri (Laya Pesulima) yang merupakan anak dari Broery Pesulima. Laya saat ini sedang bermukim di AS untuk menimba ilmu musik di salah satu universitas di Maryland.

Dia menilai potensi orang Indonesia berkiprah dalam musik Indonesia sangat besar namun harus ada yang berbeda dalam sajiannya. Laya menganggap Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak budaya dan bisa diangkat ke pentas dunia oleh musisi-musisinya.

“Tidak sulit untuk berkarir di pentas internasional kalau kita mau mempertahankan kultur kita. Selama ini mental kita ingin meng-amerika-kan dirinya padahal di luar negeri sudah banyak yang bergaya amerika,” katanya usai penutupan Kongres Diaspora Indonesia kedua.

Laya pun memiliki rencana untuk menetap di Indonesia karena dia nyaman di tanah kelahirannya.

Musik baginya merupakan jiwa yang menyatu dengan dirinya sehingga menghasilkan ciri khas yang termanifestasikan dalam lirik dan musiknya. Karena itu tahun 2013 dirinya baru memutuskan untuk masuk dapur rekaman disebabkan proses penempaan ciri khas bermusiknya dan mengisyaratkan memasukkan unsur budaya Indonesia.

Daniel dan Laya merupakan dua orang diaspora Indonesia yang menimba ilmu dan pengalaman di luar negeri selama puluhan tahun. Namun mereka sepakat bahwa identitas keindonesian tidak para diaspora tidak boleh padam meskipun gempuran modernisasi dan westernisasi terus menghegemoni di seluruh belahan dunia.

Indonesia memiliki beraneka ragam suku, ras, dan agama yang di dalamnya terdapat keragaman budaya yang harus terus dipertahankan. (Ant)