Oposisi Tuding Tentara Pro Assad Gunakan Senjata Kimia (Lagi)

Foto: Reuters

Suriah, Sayangi.com – Pihak oposisi Suriah menuduh pasukan pemerintah melakukan penyerangan dengan gas beracun terhadap ratusan orang pada Rabu (21/8) dengan menembakkan roket yang dirilis uap mematikan atas daerah yang dikuasai pemberontak di pinggiran kota Damaskus. Kejadian itu telah menewaskan pria, wanita dan anak-anak saat mereka tidur.

Dengan korban tewas diperkirakan antara 500 hingga 1.300, menjadi paling mematikan sebagai serangan senjata kimia di dunia sejak tahun 1980-an yang mendorong pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB di New York.

Dewan ini tidak secara eksplisit menuntut penyelidikan PBB atas insiden itu, meskipun dikatakan, “kejelasan” atas insiden itu sangat dibutuhkan dan disambut Sekjen PBB Ban Ki-moon dengan panggilan untuk penyelidikan cepat oleh tim inspeksi PBB di Suriah, yang dipimpin oleh Ake Sellstrom.

Sebuah pernyataan Barat sebelumnya, disusun dan disampaikan kepada dewan, dilihat oleh Reuters, tidak disetujui. Versi terakhir dari pernyataan itu disampaikan untuk mengakomodasi keberatan dari Rusia dan China, kata para diplomat. Moskow dan Beijing telah memveto upaya Barat sebelumnya untuk memberikan hukuman PBB kepada Assad.

Menteri Informasi Suriah, Omran Zoabi mengatakan tuduhan-tuduhan itu “tidak logis dan dibuat-buat”. Pejabat Presiden Bashar al-Assad telah mengatakan mereka tidak akan menggunakan gas beracun terhadap Suriah. Amerika Serikat dan sekutu Eropa percaya pasukan Assad telah menggunakan sejumlah kecil sarin sebelumnya.

Aksi internasional kemungkinan akan terbatas dengan perpecahan di antara negara-negara besar yang telah melumpuhkan upaya untuk memadamkan 2,5 tahun perang saudara dimana masih banyak bukti-bukti yang belum bisa terkumpul.

Rusia mendukung penolakan pemerintah Suriah dengan mengatakan bahwa itu tampak seperti provokasi pemberontak yang diberikan untuk mendiskreditkan Assad.

Inggris menyuarakan pandangan yang berbeda, “Saya berharap ini akan membangunkan beberapa Negara yang telah mendukung rezim Assad untuk menyadari sifat pembunuhan dan barbar pemerintahan Assad,” kata Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague pada kunjungan ke Paris.

Perancis, Inggris, Amerika Serikat dan lain-lain menyerukan segera melakukan penyelidikan dibawah inspektur senjata kimia PBB yang tiba di ibukota Suriah minggu ini. Moskow, mendesak akan adanya penyelidikan yang obyektif, kata tim yang disarankan pasukan pemerintah tidak bisa disalahkan.

Presiden AS Barack Obama juga telah membuat pernyataan bahwa penggunaan senjata kimia oleh pasukan Assad berada di “garis merah”. Dimana pada bulan Juni ini memicu lebih banyak bantuan AS kepada para pemberontak. Tapi kasus-kasus sebelumnya lebih kecil dan sengketa penyebaran mereka tidak mendatangkan pimpinan pemberontak. Intervensi militer habis-habisan telah berusaha untuk memecahkan kebuntuan.

Senator AS John McCain, seorang kritikus Republik kebijakan Suriah, mengatakan di Twitter bahwa kegagalan untuk menghukum serangan gas sebelumnya telah membuat rezim Assad lebih berani: “Tidak ada konsekuensi bagi Assad menggunakan senjata kimia & melintasi garis merah,” katanya. “Kita tidak perlu heran dia menggunakan senjata kimia lagi.” Namun pihak AS dan beberapa negara lainnya belum mengkonfirmasi adanya serangan senjata kimia lagi. (FIT/Reuters)